Korban Tewas Gempa M 7,1 di Jepang Bertambah Jadi 38 Orang
Korban Tewas Gempa M 7,1 di Jepang Bertambah Jadi 38 Orang

Otoritas prefektur Kumamoto mengonfirmasi jumlah korban tewas akibat gempa berkekuatan magnitudo 7,1 bertambah menjadi 38 orang. Berdasarkan laporan Anadolu Agency pada Minggu (2/8/2026), sebanyak 36 kematian telah dipastikan terkait langsung dengan gempa yang melanda barat daya Jepang pada Selasa pekan lalu. Dua kematian lainnya masih diselidiki untuk menentukan apakah penyebabnya berhubungan dengan gempa utama atau bukan.

Sejumlah pemberitaan sebelumnya memang sempat mencatat angka korban tewas sebanyak 35 orang. Angka tersebut kemudian diperbarui menyusul proses verifikasi dan identifikasi di lapangan. Kini, pemerintah prefektur secara resmi menetapkan jumlah korban jiwa mencapai 38 orang.

Lebih dari 9.200 warga masih bertahan di 210 tempat pengungsian. Mereka sebagian besar berasal dari daerah terdampak yang rumahnya rusak atau tidak aman untuk dihuni. Kondisi ini menggambarkan besarnya skala bencana yang melanda Kumamoto dan sekitarnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kerusakan Infrastruktur dan Gangguan Air Bersih

Getaran kuat yang dihasilkan gempa menyebabkan lebih dari 3.400 rumah mengalami kerusakan. Fasilitas umum seperti sekolah, pusat kesehatan, dan jalan juga dilaporkan terkena dampak. Pihak berwenang mengatakan fasilitas medis di wilayah terdampak masih berupaya memulihkan layanan kesehatan. Beberapa rumah sakit dan klinik menghadapi keterbatasan operasional akibat kerusakan bangunan dan gangguan pasokan listrik maupun air.

Pasokan air bersih menjadi persoalan krusial. Air keran tidak tersedia di lebih dari 69.000 rumah tangga dan bisnis di Kumamoto. Masyarakat terpaksa mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah dan relawan untuk kebutuhan minum, memasak, serta keperluan higienis. Pemerintah prefektur memperingatkan bahwa skala penuh kerusakan belum dapat dipastikan. Jumlah bangunan rusak diperkirakan akan meningkat secara signifikan seiring dengan berlanjutnya pemeriksaan dan inspeksi ke lokasi yang selama ini sulit dijangkau.

Cuaca Panas dan Operasi di Pusat Perbelanjaan Aeon

Situasi para pengungsi diperberat oleh cuaca panas. Pada Sabtu (1/8), para pejabat melaporkan sekitar 30 orang dengan gejala yang diduga mengalami serangan panas dibawa ke rumah sakit. Suhu di beberapa bagian Kumamoto mencapai lebih dari 37 derajat Celcius. Dalam kondisi seperti ini, ketersediaan air minum dan layanan kesehatan darurat menjadi kebutuhan mendesak yang tidak boleh diabaikan.

Operasi pencarian dan penyelamatan di pusat perbelanjaan Aeon dinyatakan berakhir pada Sabtu (1/8). Lokasi itu menjadi salah satu titik dengan korban terbanyak. Tujuh pekerja tewas dan lima lainnya mengalami luka-luka dalam ledakan yang terjadi tidak lama setelah gempa. Tim penyelamat yang dikerahkan telah bekerja keras untuk menjangkau korban di antara puing-puing bangunan. Setelah operasi pencarian selesai, fokus petugas dialihkan ke proses evakuasi dan pemulihan wilayah.

Jepang di Atas Cincin Api Pasifik

Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 ini kembali mengingatkan bahwa Jepang adalah salah satu negara paling rawan gempa di dunia. Letaknya di sepanjang Cincin Api Pasifik menjadikan wilayah Jepang kerap diguncang aktivitas tektonik. Jepang mengalami sekitar 20% gempa bumi di dunia dengan magnitudo 6,0 atau lebih besar. Angka ini menunjukkan betapa tingginya frekuensi aktivitas seismik yang harus dihadapi negeri tersebut setiap tahun.

Otoritas setempat tetap mengimbau warga untuk waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Meskipun operasi pencarian di Aeon telah dihentikan, pendataan kerusakan dan pendistribusian bantuan masih terus berjalan. Warga di lokasi pengungsian diminta mengikuti arahan petugas serta menjaga kondisi tubuh di tengah cuaca panas. Pemerintah prefektur berkomitmen memperbarui informasi perkembangan penanganan gempa secara berkala kepada masyarakat.

Upaya Pemulihan dan Imbauan kepada Warga

Pemerintah prefektur bersama instansi terkait terus berkoordinasi untuk mempercepat pemulihan layanan dasar. Prioritas utama meliputi pemulihan pasokan air bersih, perbaikan fasilitas kesehatan, serta memastikan kondisi tempat pengungsian layak huni. Warga yang masih tinggal di pengungsian juga diminta melapor jika membutuhkan bantuan medis.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Tim medis disiagakan di sejumlah titik untuk menangani keluhan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan cuaca panas. Masyarakat diminta tidak ragu memeriksakan diri jika mengalami gejala pusing, mual, atau kelelahan. Selain itu, warga diimbau untuk selalu memantau informasi resmi terkait gempa susulan dan kondisi cuaca.