Menkes Perintahkan Skrining Jiwa Usai Dokter Magang Diduga Bunuh Diri
Menkes Perintahkan Skrining Jiwa Dokter Magang

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin merespons kabar dugaan seorang dokter peserta Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) yang meninggal diduga mengakhiri hidup di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. Budi mengaku sedih dan meminta penyebab pasti kejadian itu segera ditelusuri.

Menkes Budi: Saya Sedih, Jangan Ada Lagi yang Meninggal

"Saya sedih sekali kenapa internship ini seperti ini. Saya sudah concern sebelumnya jangan ada lagi yang meninggal," kata Budi, Senin (26/7) dikutip dari detik.com. Korban berinisial SZM merupakan peserta internship di RS Sentar Medika, Cisalak, Depok, Jawa Barat. Ia adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.

Kasus Sebelumnya di Lampung

Budi juga menyinggung kasus meninggalnya dokter internship di Lampung yang sebelumnya menjadi sorotan. Menurut hasil investigasi Kementerian Kesehatan, kasus tersebut diketahui tidak berkaitan dengan perundungan, melainkan karena kondisi sakit yang dialami korban. "Yang sebelumnya ternyata karena sakit. Ini bunuh diri karena apa dugaannya, sedang dicari penyebabnya. Ada masalah kejiwaan kah sehingga bisa seperti ini," ujarnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Skrining Kesehatan Jiwa Diperintahkan

Secara umum, Budi telah meminta agar seluruh peserta internship maupun Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) kembali menjalani skrining kesehatan jiwa. Langkah ini diharapkan dapat mendeteksi lebih dini peserta yang memiliki risiko sehingga dapat segera memperoleh penanganan. "Tapi yang jelas saya sudah minta semua diskrining jiwa sekali lagi, supaya internship, PPDS dengan indikasi bunuh diri ini seharusnya kan bisa ditangani," kata Budi. "Jadi kalau ada indikasi-indikasi, kita bisa ambil tindakan. Ini cara yang paling cepat yang bisa kami lakukan. Terus terang kami sedih sekali."

Kronologi Kejadian di Apartemen Kalibata

Sebelumnya, SZM diduga melompat dari sebuah apartemen di Kalibata, Jakarta Selatan, pada Minggu (26/7). Kapolsek Pancoran Kompol Mansur mengatakan korban tinggal bersama ibunya di apartemen itu. Peristiwa bermula saat sang ibu mengajak korban pergi ke mal, namun korban menolak. "Nah, setelah [ibunya] pergi, pintu dikunci dari dalam oleh si korban. Terus, di situlah akhirnya si korban ini [diduga] lompat dari jendela untuk mengakhiri hidupnya, dari lantai 18," kata Mansur kepada wartawan, Senin.

Polisi Dalami Motif, Termasuk Tekanan Pekerjaan

Mansur mengatakan pihaknya masih mendalami motif korban mengakhiri hidupnya, termasuk dugaan tekanan pekerjaan di balik peristiwa ini. Ia mengaku sampai saat ini belum bisa meminta keterangan dari pihak keluarga karena masih dalam suasana duka. Kemenkes berharap skrining ulang dapat menjadi langkah awal untuk mencegah kejadian serupa terulang. Apabila peserta menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan mental atau risiko bunuh diri, intervensi dapat segera diberikan sebelum kondisi memburuk.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga