Riset BRIN Ungkap Ibu Lulusan SMP Lebih Banyak Tak Berikan ASI ke Bayi
Riset BRIN: Ibu Lulusan SMP Banyak Tak Berikan ASI

Riset BRIN Ungkap Keterkaitan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa ibu dengan latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) cenderung lebih banyak tidak memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi mereka. Studi ini menyoroti pentingnya faktor pendidikan dalam praktik pemberian ASI eksklusif, yang sangat krusial untuk kesehatan dan perkembangan anak di masa awal kehidupan.

Data dan Metodologi Penelitian

Riset ini dilakukan dengan menganalisis data dari survei nasional yang mencakup ribuan responden ibu di berbagai wilayah Indonesia. Para peneliti BRIN menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengevaluasi hubungan antara tingkat pendidikan formal ibu dan kebiasaan pemberian ASI selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten di mana ibu berpendidikan SMP memiliki prevalensi lebih rendah dalam memberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan ibu yang menyelesaikan pendidikan lebih tinggi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Beberapa faktor utama yang diidentifikasi dalam penelitian ini meliputi aspek sosial ekonomi dan tingkat pengetahuan tentang manfaat ASI. Ibu dengan pendidikan SMP sering kali menghadapi tantangan seperti tekanan finansial yang memaksa mereka untuk kembali bekerja lebih cepat, sehingga mengurangi kesempatan untuk menyusui. Selain itu, kurangnya akses terhadap informasi kesehatan yang memadai dan dukungan dari lingkungan sekitar juga berkontribusi pada rendahnya angka pemberian ASI.

Pengetahuan tentang nutrisi dan kesehatan bayi ditemukan sebagai elemen kunci. Ibu yang lebih berpendidikan cenderung lebih memahami pentingnya ASI dalam membangun sistem kekebalan tubuh dan mencegah penyakit pada anak. Sebaliknya, keterbatasan edukasi dapat menyebabkan kesalahpahaman atau ketidaktahuan tentang prosedur menyusui yang benar.

Implikasi bagi Kebijakan Kesehatan

Temuan ini memiliki implikasi signifikan bagi pembuat kebijakan di bidang kesehatan masyarakat. BRIN menyarankan perlunya program intervensi yang ditargetkan untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan bagi ibu dengan pendidikan rendah. Langkah-langkah yang dapat diambil antara lain:

  • Meningkatkan kampanye edukasi tentang manfaat ASI melalui media yang mudah diakses.
  • Memberikan pelatihan dan konseling menyusui di pusat kesehatan masyarakat.
  • Memperkuat regulasi yang mendukung cuti melahirkan dan fasilitas menyusui di tempat kerja.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk mengembangkan strategi yang lebih efektif dalam mendorong praktik pemberian ASI eksklusif, terutama di kalangan kelompok rentan. Dengan upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga riset, dan masyarakat, diharapkan angka pemberian ASI dapat meningkat, mendukung tujuan kesehatan nasional untuk mengurangi angka stunting dan meningkatkan kualitas generasi mendatang.