KOMPAS.com - Membesarkan anak dengan down syndrome memerlukan perhatian ekstra dari orangtua. Kelainan genetik akibat kelebihan kromosom 21 tersebut tidak menutup kemampuan anak down syndrome untuk bisa belajar di sekolah reguler.
Pengalaman Imelda: Kecurigaan Muncul saat Usia 9 Bulan
26 tahun silam, Imelda melahirkan anak keduanya, Satya Dwiputra, di Jakarta. Sebagai ibu yang baru menjalani proses bersalin, ia tidak berpikir ada sesuatu yang terjadi pada sang putra. Kecurigaan muncul setelah Satya memasuki usia 9 bulan dan belum bisa duduk. Imelda mengaku terkejut ketika mengetahui buah hatinya dinyatakan mengalami down syndrome.
Dukungan Orangtua Kunci Keberhasilan
Menurut para ahli, anak dengan down syndrome memiliki potensi untuk berkembang secara optimal jika mendapatkan dukungan yang tepat dari orangtua dan lingkungan. Stimulasi dini, terapi, dan pendidikan inklusif menjadi faktor penting dalam membantu mereka meraih kemampuan terbaiknya.
Sekolah Reguler sebagai Pilihan
Banyak anak down syndrome yang mampu mengikuti pembelajaran di sekolah reguler dengan pendampingan khusus. Hal ini membuktikan bahwa label 'keterbatasan' tidak menghalangi mereka untuk bersosialisasi dan belajar bersama anak-anak lainnya. Imelda pun terus berjuang memberikan yang terbaik bagi Satya, termasuk memilihkan pendidikan yang sesuai.
Kisah Imelda dan Satya menjadi inspirasi bagi orangtua lain yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus. Dengan cinta, kesabaran, dan dukungan yang konsisten, anak down syndrome dapat tumbuh menjadi individu yang mandiri dan percaya diri.



