Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (WamenPPPA) Veronica Tan mengingatkan anak-anak Indonesia untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan gawai secara bijak. Ia secara spesifik meminta agar anak tidak menggunakan gadget untuk sekadar menggulir (scroll) urusan orang lain.
Pesan di Puncak Hari Anak Nasional ke-42
Pernyataan itu disampaikan Veronica saat memberikan sambutan pada acara Puncak Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 yang digelar di Makara Art Center, Universitas Indonesia, Depok, Kamis (23/7/2026). Acara tersebut dihadiri oleh Wali Kota Depok Supian Suri serta 500 peserta anak.
Veronica mengawali sambutannya dengan mendorong anak-anak untuk belajar giat demi mengejar mimpi. Ia menekankan bahwa anak-anak dapat menggunakan berbagai alat yang tersedia, termasuk AI dan gadget, untuk mencapai cita-cita.
"Yang paling pertama adalah untuk mengejar mimpi, belajarlah sebanyak-banyaknya. Pakailah apapun alat yang ada, tapi untuk mengejar mimpi dan tujuan cita-cita," ujar Veronica dalam sambutannya.
Larangan Scroll Urusan Orang Lain
Veronica secara khusus meminta anak-anak tidak menggunakan gadget untuk hal-hal yang tidak produktif. Ia melarang anak menggunakan gawai untuk scroll urusan orang lain.
"Jadi kalau zaman sekarang ini punya AI, punya gadget, gadget-nya jangan di-scroll urusan orang ya. Jangan banyak lihatin yang aneh-aneh, ketawain orang, terus ketawa sendiri," tambahnya.
Menurut Veronica, anak-anak tidak bisa lepas dari teknologi. Oleh karena itu, ia berpesan agar mereka bijak dalam mempelajari hal-hal melalui gadget.
"Kita tidak bisa keluar dari jalur teknologi. Tapi Adik-adik harus bisa memastikan apa yang Adik-adik lihat. Jadi ini juga membuat kita punya prinsip kita mau belajar mengejar mimpi dengan tools dan teknologi yang ada, tapi kita juga mau belajar untuk kebaikan," ungkapnya.
Pentingnya Hati Nurani dan Budi
Veronica juga menekankan pentingnya mengingat hati nurani. Ia mengatakan bahwa kepedulian terhadap sesama akan muncul jika anak-anak selalu mengingat hal tersebut.
"Jadi yang kedua yang harus Adik-adik ingat adalah budi. Jadi hati nurani itu Tuhan ciptakan untuk kita semua. Jadi kalau kita rasa ada teman atau orang lain yang mungkin perlu bantuan, janganlah lupakan hati nurani itu. Jadilah teman-teman, jadilah orang-orang yang tetap memakai hati nurani, memakai budi kita. Karena budaya kita adalah budaya yang berakal budi," bebernya.
Berani Menolak dan Memilih Tempat Curhat yang Tepat
WamenPPPA juga berharap anak-anak berani mengatakan tidak dalam situasi yang mengancam. Melalui teknologi, menurutnya, tidak ada batasan informasi sehingga siapa pun bisa berkomunikasi dengan anak.
"Seperti kalau kita lihat benar, balik lagi, siapapun itu bisa meng-grooming Adik, siapapun itu bisa berbicara dengan Adik-adik karena dengan adanya teknologi kita sudah tidak ada batas. Tapi Adik-adik bisa mengatakan tidak kalau semua hal ataupun percakapan sudah melewati batas urusan pribadi," ungkapnya.
"Apalagi daerah privasi keluarga Anda yang mungkin ditanyain sesuatu yang mungkin harusnya ini udah daerah private gitu loh. Adik-adik bisa mengatakan tidak," tambahnya.
Terakhir, Veronica berpesan agar anak-anak mengungkapkan perasaan hanya kepada orang yang mereka kenal dan percayai, bukan kepada orang yang tidak dikenal.
"Carilah orang yang paling Adik kenal, Adik percayai. Jangan sembarangan bercerita kepada orang lain. Jadi tiga hal ini yang saya yakin dengan adanya tekad kita berbudaya di hari lebaran anak ini dan berbudaya yang berakal dan berbudi, ini menjadi basic kita untuk melangkah ke depan untuk mengejar mimpi dan juga memberikan pengaruh yang baik kepada sekitaran kita," ungkapnya.



