Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) kembali menyuarakan keprihatinan terkait penggunaan galon guna ulang yang telah melewati batas usia pakai. Organisasi yang mewakili kepentingan konsumen ini mengungkapkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami risiko kesehatan dari galon tua, terutama yang terbuat dari bahan polikarbonat.
Mayoritas Konsumen Tak Sadar Batas Pemakaian Galon
Ketua KKI, David Tobing, menyampaikan bahwa dari 250 laporan yang masuk selama periode Maret hingga April 2026 dari tujuh kota, sebanyak 92 persen konsumen mengaku tidak mengetahui bahwa galon guna ulang memiliki batas masa pakai. “Ini menunjukkan tingginya kesadaran konsumen namun masih minimnya pengetahuan, menunjukkan lemahnya edukasi produsen,” ujar David.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 34 persen rumah tangga di Indonesia menggunakan air galon sebagai sumber utama air minum. Dengan estimasi mencapai 100 juta pengguna setiap hari, KKI menilai persoalan ini perlu menjadi perhatian serius. David menyoroti belum adanya informasi jelas mengenai masa pakai galon yang dicantumkan pada produk. Menurut dia, konsumen hanya menemukan kode produksi tanpa penjelasan mengenai batas penggunaan. “Di galon itu enggak ada berapa lama masa pakainya, yang tertera hanya kode produksi. Nah inilah yang saya katakan sebagai kekosongan regulasi masa pakai,” kata David.
Banyak Galon Lama Masih Digunakan Konsumen
KKI menemukan sebagian besar laporan berasal dari konsumen yang masih menerima galon berusia lebih dari satu tahun. Verifikasi usia galon dilakukan melalui foto yang wajib dilampirkan dalam pengaduan. Bahkan, KKI menemukan adanya galon yang telah digunakan hingga belasan tahun. “Ada yang usianya 11 tahun. Di beberapa daerah sekitar Jakarta itu galon-galon memang usianya banyak yang 5 tahunan ke atas,” ungkapnya.
Selain faktor usia, kondisi fisik galon juga menjadi sorotan dalam laporan yang diterima KKI. Sebanyak 30 persen galon dilaporkan dalam kondisi kotor atau berlumut, sementara 18 persen lainnya mengalami retak maupun goresan. “Semakin tua usia galon semakin beragam jenis keluhannya. Masalah fisik, kotor, kusam, dan retak. Nah ini mendominasi laporan konsumen,” kata David.
Risiko BPA dan Desakan Regulasi
Mewakili suara konsumen, David menjelaskan galon berbahan polikarbonat berpotensi melepaskan BPA yang dapat bercampur dengan air. Risiko tersebut disebut meningkat akibat paparan sinar matahari, usia pemakaian yang terlalu lama, hingga proses pencucian yang kasar. “Tentu bahaya karena BPA itu bisa luruh dan bercampur dengan airnya. Potensi luruhnya BPA ini bisa disebabkan paparan sinar matahari, usia pakai, dan pencucian kasar,” jelas David.
Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa rekomendasi masa penggunaan galon maksimal satu tahun atau sekitar 40 kali penggunaan untuk mengurangi potensi dampak kesehatan seperti obesitas, diabetes tipe 2, dan gangguan lainnya. “Ada satu prinsip di dalam perdagangan, bahwa kalau harganya sama maka kualitas juga sama. Pertanyaannya kan kadang dalam galon ini kita bisa saja membeli dengan harga sama tapi galonnya sudah tua,” tegas David.
Sebagai perwakilan konsumen, KKI pun meminta produsen dan pemerintah segera mengambil langkah pengawasan terhadap peredaran galon guna ulang yang sudah terlalu lama digunakan. “Harusnya pelaku usaha bertanggung jawab terhadap galonnya. Jangan dibiarkan beredar yang sudah tua-tua,” ujarnya. “Kekosongan regulasi masa pakai untuk guna ulang adalah akar masalah yang harus ditutup. Negara perlu regulasi yang melindungi kesehatan masyarakat bukan sekedar keuntungan produsen,” tutup David.



