Ahli Gizi Stanford Peringatkan Konsumsi Suplemen Berlebihan Tak Perlu
Konsumsi suplemen makanan semakin populer di masyarakat, terutama dipengaruhi oleh tren kesehatan yang marak di media sosial dan podcast. Namun, para ahli menegaskan bahwa banyak suplemen sebenarnya tidak diperlukan oleh tubuh jika pola makan sudah seimbang.
Kekhawatiran Ahli Gizi Stanford
Marily Oppezzo, seorang ahli gizi sekaligus peneliti dari Stanford University, mengaku sering terkejut melihat jumlah suplemen yang dikonsumsi oleh kliennya setiap hari. Ia menyatakan, "Ada yang mengonsumsi 'tumpukan' suplemen di pagi hari dan lagi di malam hari, kadang sampai 20 jenis atau lebih", sebagaimana dilansir The New York Times pada Rabu, 11 Februari 2026.
Oppezzo menekankan bahwa kebiasaan ini seringkali tidak didasarkan pada kebutuhan medis yang spesifik, melainkan lebih dipengaruhi oleh informasi yang beredar di platform digital. Ia menambahkan, pola makan yang seimbang dan kaya nutrisi alami sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh tanpa harus bergantung pada suplemen tambahan.
Risiko Konsumsi Suplemen Berlebihan
Konsumsi suplemen secara berlebihan dapat menimbulkan beberapa risiko kesehatan, antara lain:
- Interaksi dengan obat-obatan: Beberapa suplemen dapat berinteraksi negatif dengan obat resep, mengurangi efektivitasnya atau menyebabkan efek samping berbahaya.
- Overdosis vitamin dan mineral: Asupan vitamin atau mineral yang melebihi batas aman dapat menyebabkan keracunan, seperti hiperkalsemia dari kelebihan kalsium atau kerusakan hati dari kelebihan vitamin A.
- Biaya yang tidak perlu: Pengeluaran untuk suplemen dapat membebani keuangan tanpa memberikan manfaat signifikan jika tidak diperlukan secara medis.
Para ahli merekomendasikan untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum memutuskan mengonsumsi suplemen, terutama jika memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sedang dalam pengobatan.
Pentingnya Pola Makan Seimbang
Daripada mengandalkan suplemen, Oppezzo menyarankan fokus pada pola makan yang sehat dan bervariasi. "Makanan utuh seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan protein lean menyediakan nutrisi dalam bentuk yang lebih mudah diserap tubuh", ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa suplemen sebaiknya hanya digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti makanan bergizi.
Tren kesehatan di media sosial seringkali mempromosikan suplemen sebagai solusi cepat, tetapi penting untuk menyaring informasi dengan kritis dan mengutamakan saran dari profesional kesehatan terpercaya.