KOMPAS.com - Lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia hidup dengan obesitas, kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan beberapa jenis kanker. Menurunkan berat badan bukan sekadar mengurangi kalori. Rasa lapar, keinginan makan, dan risiko berat badan naik kembali dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara usus, hormon, metabolisme, dan otak.
Puasa Intermiten sebagai Solusi
Salah satu metode yang semakin mendapat perhatian adalah intermittent energy restriction (IER), atau yang lebih dikenal sebagai puasa intermiten. Pola makan ini menggabungkan periode pembatasan kalori ketat dengan periode makan normal. Riset yang dipublikasikan pada tahun 2023 menunjukkan bahwa puasa intermiten tidak hanya membantu menurunkan berat badan, tetapi juga mengubah hubungan antara mikrobiome usus dan aktivitas otak yang mengatur nafsu makan.
Mekanisme di Balik Puasa Intermiten
Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa puasa intermiten memengaruhi komposisi bakteri usus. Perubahan ini kemudian berkomunikasi dengan otak melalui jalur sinyal tertentu, sehingga mengurangi rasa lapar dan keinginan makan. Dengan demikian, puasa intermiten bekerja tidak hanya secara fisik tetapi juga secara neurologis.
- Mengurangi risiko penyakit kronis seperti jantung dan diabetes.
- Meningkatkan sensitivitas insulin.
- Memperbaiki profil lipid darah.
Meskipun efektif, puasa intermiten perlu dilakukan dengan panduan yang tepat. Konsultasi dengan tenaga kesehatan sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi medis tertentu. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan usus-otak, metode ini menawarkan harapan baru dalam pengelolaan berat badan jangka panjang.



