Manajer Ungkap Dampak Psikologis Gugatan Anak pada Denada Tambunan
Dampak Psikologis Gugatan Anak pada Denada Tambunan

Manajer Ungkap Dampak Psikologis Gugatan Anak pada Denada Tambunan

Manajer penyanyi Denada Tambunan, Risna Ories, mengungkapkan bahwa kasus perseteruan antara Denada dengan anak kandungnya, Ressa Rossano, sempat memberikan dampak signifikan terhadap kondisi psikologis artis tersebut. Risna menyebutkan bahwa Denada mengalami tekanan mental yang cukup berat selama menghadapi gugatan perdata dan sorotan publik terkait status Ressa.

Tekanan Mental yang Berat

"Wah, bukan kena (mental) lagi. Apalagi kamu punya rasa bersalah yang besar gitu ya, pasti itu kena mental banget," ujar Risna saat ditemui di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, pada hari Jumat, 20 Maret 2026. Menurut Risna, tekanan yang dialami Denada bersumber dari akumulasi rasa bersalah di masa lalu karena menitipkan Ressa saat masih bayi, ditambah dengan hujatan dari warganet di media sosial.

Risna menjelaskan bahwa perseteruan ini tidak hanya melibatkan aspek hukum, tetapi juga emosional yang dalam. Denada harus menghadapi tuntutan perdata dari anaknya sendiri, sementara di saat yang sama, publik terus memberikan sorotan tajam terhadap setiap perkembangan kasus ini. Kombinasi antara rasa bersalah pribadi dan tekanan eksternal dari masyarakat menciptakan beban yang luar biasa bagi kesehatan mental Denada.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Sumber Tekanan: Rasa Bersalah dan Sorotan Publik

Lebih lanjut, Risna memaparkan bahwa rasa bersalah Denada berasal dari keputusan masa lalu untuk menitipkan Ressa saat masih bayi. Keputusan ini, meskipun dilakukan dengan berbagai pertimbangan, ternyata meninggalkan luka emosional yang mendalam bagi kedua belah pihak. Ketika perseteruan ini muncul ke permukaan, rasa bersalah tersebut semakin membesar dan memengaruhi stabilitas psikologis Denada.

Selain itu, hujatan dari warganet di media sosial turut memperburuk situasi. Komentar-komentar negatif yang terus berdatangan tidak hanya menambah stres, tetapi juga memperpanjang trauma yang dialami. Risna menekankan bahwa dukungan dari keluarga dan tim manajemen sangat penting dalam membantu Denada melewati masa-masa sulit ini, meskipun proses penyembuhan mental membutuhkan waktu dan kesabaran.

Kasus ini menyoroti betapa kompleksnya persoalan keluarga yang melibatkan publik, di mana aspek hukum dan emosional saling berkaitan. Denada, sebagai figur publik, harus menghadapi tantangan ganda: menyelesaikan masalah pribadi sambil tetap berada di bawah pengawasan masyarakat. Risna berharap bahwa dengan pengungkapan ini, publik dapat lebih memahami dampak psikologis yang dialami oleh individu dalam situasi serupa.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga