Program pendampingan (inkubasi) UMKM GemaWira yang digagas Yayasan Indonesia Setara (YIS) selama tiga bulan mencatat hasil signifikan. Tiga peserta terbaik berhasil meningkatkan omzet usaha setelah mengikuti serangkaian materi, mulai dari penyusunan model bisnis, pengelolaan keuangan, pemasaran digital, legalitas usaha, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk pengembangan usaha.
Pendampingan Intensif sebagai Kunci Transformasi
Founder Yayasan Indonesia Setara, Sandiaga Uno, menegaskan bahwa program inkubasi tidak sekadar memberikan pelatihan, melainkan membangun kapasitas pelaku UMKM agar mampu mengembangkan usahanya secara berkelanjutan. "Kami ingin para pelaku UMKM tidak hanya bertahan, tetapi naik kelas. Pendampingan yang intensif harus mampu mengubah cara berpikir pelaku usaha, memperkuat tata kelola bisnis, memanfaatkan teknologi digital, hingga membuka akses terhadap pasar dan pembiayaan. Ketika kapasitas pelaku usaha meningkat, maka omzet dan daya saingnya juga akan ikut tumbuh," ujar Sandiaga.
Hasil Nyata: Omzet Tiga UMKM Melonjak
Peningkatan paling mencolok dicatat oleh Nain Toe Sik Catering milik Dwi Komalasari. Usaha katering yang dirintis sejak 2018 itu berhasil menggandakan omzet bulanan dari sekitar Rp 10 juta menjadi Rp 20 juta setelah mengikuti program inkubasi. Dwi mengaku sebelumnya menjalankan usaha berdasarkan pengalaman tanpa perencanaan bisnis yang terstruktur. Instrumen seperti Business Model Canvas (BMC), audit usaha, growth planning, dan pemanfaatan AI untuk promosi masih asing baginya. Selama inkubasi, ia mendapat pendampingan penyusunan model bisnis, SOP, penerapan prinsip Kaizen, legalitas, pencatatan keuangan, audit bisnis, hingga penggunaan ChatGPT dan AI untuk materi promosi. "Ilmu yang saya peroleh tidak berhenti di teori, tetapi langsung saya terapkan dalam usaha. Operasional menjadi lebih tertata, saya lebih percaya diri dalam mengambil keputusan, lebih berani berinovasi, dan alhamdulillah omzet usaha terus meningkat," ujar Dwi.
Keberhasilan serupa diraih ByNiNe, usaha kuliner milik Vemmy Magdaliena, yang meningkatkan omzet dari Rp 6 juta menjadi Rp 10 juta per bulan. Vemmy mengaku sebelumnya usahanya dikelola secara konvensional: pencatatan keuangan manual, pemasaran digital belum optimal, serta pemahaman legalitas dan akses pembiayaan terbatas. Melalui pendampingan, ia mulai mampu menyusun BMC, memperbaiki operasional, menerapkan digitalisasi pencatatan keuangan, memanfaatkan pemasaran digital, dan melakukan evaluasi bisnis sistematis. "Program ini tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri saya sebagai pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha secara lebih profesional, terstruktur, dan berkelanjutan," katanya.
Sementara itu, Indah Purnamasari, pemilik Ninu Culinary, mencatat peningkatan omzet dari Rp 7 juta menjadi Rp 9 juta setelah mengikuti program. Pelaku usaha kuliner yang memulai bisnis sejak 2016 itu sebelumnya belum memiliki visi bisnis jangka panjang, pencatatan keuangan belum tertata, dan inovasi produk terbatas. Pendampingan mendorong perubahan dalam mengelola usaha, mulai dari strategi pengembangan produk, sistem pencatatan keuangan yang lebih rapi, hingga keterbukaan terhadap inovasi dan kolaborasi dengan UMKM lain.
Dampak Luas bagi Ekosistem UMKM
Keberhasilan program GemaWira menunjukkan bahwa pendampingan intensif yang komprehensif mampu mendorong UMKM naik kelas. Dengan peningkatan kapasitas di bidang model bisnis, keuangan, pemasaran digital, legalitas, dan AI, para pelaku UMKM tidak hanya bertahan tetapi juga tumbuh berkelanjutan. Sandiaga berharap program ini dapat direplikasi untuk memperkuat ekosistem UMKM nasional.



