Pramono Bentuk Petugas Khusus untuk Atasi Dominasi Ikan Sapu-Sapu di Perairan Jakarta
Pramono Bentuk Petugas Khusus Atasi Ikan Sapu-Sapu di Jakarta

Pramono Bentuk Petugas Khusus untuk Atasi Dominasi Ikan Sapu-Sapu di Perairan Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan rencana pembentukan petugas Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) khusus untuk menangani persoalan ikan sapu-sapu yang semakin mendominasi perairan ibu kota. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap populasi masif ikan invasif tersebut, yang dinilai tidak dapat diatasi hanya melalui kegiatan seremonial belaka.

"Secara khusus nanti kami akan tugaskan PJLP yang bertugas untuk itu," tegas Pramono usai meninjau gerakan tangkap ikan sapu-sapu di Saluran RW 06, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, pada Jumat (17/4/2026). Dia menegaskan bahwa penanganan akan dilakukan secara sistematis, dengan fokus pada pengendalian populasi di saluran air dan sungai.

Populasi Mencapai 60 Persen dan Reproduksi Cepat

Pramono menjelaskan bahwa keberadaan ikan sapu-sapu di perairan Jakarta kini menjadi persoalan serius akibat kemampuan berkembang biaknya yang sangat cepat. Dalam satu kali reproduksi, ikan ini dapat menghasilkan ribuan telur, dengan betina mampu bertelur 300 hingga 3.000 butir. "Saya juga baru tahu kenapa ikan sapu-sapu yang wanita itu rata-rata lebih gemuk daripada yang pria dan telurnya satu ikan itu bisa 1.000 lebih ya? Jadi bertelurnya cepat banget," ungkapnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dominasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta disebut sudah sangat tinggi, bahkan tembus 60 persen berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Populasi berpotensi terus meningkat jika tidak dikendalikan secara konsisten. "Maka dengan demikian sekali lagi gerakan ini untuk mengurangi dominasi yang terlalu berlebihan ikan sapu-sapu yang ada di Jakarta ini," kata Pramono.

Strategi Efektif Menurut Pakar IPB

Pakar ikan dan konservasi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Dr Charles PH Simanjuntak, menegaskan bahwa pengendalian populasi ikan sapu-sapu harus dilakukan secara terpadu. "Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis," ujar Charles.

Dia menyarankan Pemprov Jakarta untuk memperkuat regulasi perdagangan ikan hias dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan alami. Pelibatan masyarakat melalui perburuan berbasis komunitas juga dinilai mampu menekan populasi dalam skala lokal, meskipun keberhasilan jangka panjang dapat terbatas oleh imigrasi ikan dari daerah lain.

"Karena itu, perlu dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai. Ikan sapu-sapu yang telah ditangkap juga perlu dimusnahkan untuk mengurangi jumlahnya," ucap Charles. Dari sisi kontrol biologis, pemanfaatan predator alami seperti ikan baung dan betutu dapat membantu, meskipun hanya efektif pada fase juvenil berukuran 0,6–1,0 cm.

Karakteristik Ikan Sapu-Sapu sebagai Spesies Invasif

Charles menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys Pardalis) merupakan ikan asing introduksi yang dikenal sebagai spesies invasif dengan kemampuan reproduksi sangat tinggi. Dalam satu siklus, seekor betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur dan dapat berkembang biak beberapa kali dalam setahun.

"Satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina. Ikan jantan akan menjaga telur di dalam liang yang mereka gali sampai menetas sehingga sintasan (persentase kelangsungan hidup) bisa mencapai lebih dari 90 persen," paparnya. Ikan ini juga mampu bereproduksi pada ukuran yang masih kecil (23,9–28,99 cm untuk jantan dan 13,0–25,98 cm untuk betina), sehingga mempercepat siklus invasi.

Di habitat asalnya di Sungai Amazon, Amerika Selatan, predator alami ikan sapu-sapu meliputi ikan Common Snook, ikan Tarpon, buaya Spectacled Caiman, dan burung Neotropic Cormorant. "Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan," kata Charles.

Dia juga mengingatkan bahwa pemanfaatan ikan sapu-sapu untuk dikonsumsi tidak direkomendasikan jika berasal dari perairan tercemar yang berpotensi mengandung logam berat. "Dengan pendekatan terpadu dan melibatkan berbagai pihak, pengendalian ikan sapu-sapu diharapkan dapat dilakukan lebih efektif dan berkelanjutan, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem perairan di Jakarta," pungkasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga