Pemprov NTB Dorong CSA Hadapi El Nino, Ini Penjelasannya
Pemprov NTB Dorong CSA Hadapi El Nino, Ini Penjelasannya

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) terus mendorong penerapan teknologi pertanian cerdas iklim atau Climate Smart Agriculture (CSA) sebagai strategi menghadapi dampak perubahan iklim, khususnya fenomena El Nino yang diprediksi terjadi tahun ini.

Latar Belakang Penerapan CSA

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Mirza Amir, menyatakan bahwa CSA merupakan salah satu teknologi yang kini digencarkan untuk membantu petani beradaptasi dengan perubahan iklim. "Memang ada banyak teknologi, salah satunya itu CSA. Ini yang sedang kita dorong bagaimana petani menerapkan teknik budidaya seperti itu," ujarnya di Mataram, Selasa (28/4/2026), seperti dilansir Antara.

Teknologi ini diarahkan pada tiga aspek utama: peningkatan produktivitas tanaman, ketahanan terhadap perubahan iklim dan serangan penyakit, serta keberlanjutan lingkungan melalui pengurangan emisi gas rumah kaca.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Implementasi di Lapangan

Menurut Mirza, implementasi CSA di lapangan meliputi penggunaan air secara hemat dengan sistem "macak-macak", pemupukan berimbang berbasis uji tanah, serta penggunaan benih unggul. Selain itu, petani didorong untuk memanfaatkan varietas padi adaptif yang tahan terhadap kekeringan akibat musim kemarau.

"Pemanfaatan varietas padi adaptif ini krusial agar produksi pertanian tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau. Jadi, mana varietas yang tahan terhadap kemarau itu yang kita anjurkan selain tanaman yang berumur pendek," terang Mirza.

Optimalisasi Pengelolaan Sumber Air

Pemprov NTB juga mengoptimalkan pengelolaan sumber air melalui irigasi, pompanisasi, dan perpipaan di berbagai sentra produksi. Mirza menyebutkan bahwa Kementerian Pertanian telah mengumpulkan seluruh bupati dan wali kota untuk memperkuat mitigasi, dan usulan pompa telah disampaikan ke pemerintah pusat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa 63 persen wilayah zona musim di Indonesia terdampak El Nino, yang menyebabkan musim kemarau lebih kering dari biasanya.

Peran Petugas Lapangan

Peran petugas lapangan seperti Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), pengawas benih, dan petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (OPT) akan terus diperkuat. Mereka bertugas mendeteksi dini serangan hama, penyakit, dan potensi dampak bencana alam terhadap tanaman.

"Pendampingan budidaya melalui penerapan good agriculture practices menjadi kunci agar produktivitas petani tetap optimal," ucap Mirza.

Target Produksi NTB

Untuk tahun ini, Pemprov NTB menargetkan produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 1,460 juta ton. "Itu target kita dan kita optimis angka itu bisa tercapai meski ada El Nino dengan beberapa strategi yang kita lakukan," tandas Mirza.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga