Percepatan Teknologi Digital dan Tantangan Baru bagi Perusahaan
Dunia bisnis saat ini dihadapkan pada percepatan teknologi digital yang luar biasa, disrupsi rantai pasok global, serta dinamika regulasi dan pasar modal yang semakin kompleks. Masa depan tidak lagi bergerak secara linear, terutama di tengah perubahan cepat yang dipicu oleh ketegangan geopolitik. Dalam konteks ini, ketidakpastian menjadi keniscayaan, dan peran Chief Financial Officer (CFO) menjadi semakin krusial untuk memastikan kelangsungan dan pertumbuhan perusahaan.
Pandangan Evi Afiatin sebagai Best CFO 2025
Evi Afiatin, yang menerima penghargaan Best CFO 2025 dalam forum Indonesia Best CEO & CFO 2025 yang diselenggarakan oleh SWA Media Group bersama Dunamis Organization Services, menyoroti pentingnya persiapan perusahaan menghadapi berbagai kemungkinan masa depan. "Perusahaan tidak cukup hanya mengejar kinerja jangka pendek, tetapi harus dipersiapkan untuk menghadapi berbagai kemungkinan masa depan, baik itu risiko yang tidak terduga maupun peluang yang muncul tiba-tiba," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Penghargaan ini diberikan atas kepemimpinannya saat menjabat sebagai Direktur PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan Direktur Keuangan PT Sucofindo (Persero). Di bawah kepemimpinannya, Evi mendorong penguatan fundamental perusahaan melalui disiplin finansial, integrasi manajemen risiko, digitalisasi pengambilan keputusan, serta penguatan tata kelola korporasi. Saat ini, Evi menjabat sebagai Direktur Transformasi, SDM & Umum PT Surveyor Indonesia (Persero), menandai perluasan perannya dari pemimpin fungsi keuangan menjadi penggerak transformasi institusi secara menyeluruh.
Pergeseran Mandat CFO Menjadi Arsitek Nilai Perusahaan
Dalam paparannya bertajuk 'From Financial Steward to Enterprise Value Architect: Commanding Agility and Governance in an Age of Uncertainty', Evi menegaskan bahwa CFO modern tidak lagi cukup berperan sebagai pengelola anggaran atau penjaga stabilitas laporan keuangan. "Pada situasi perubahan yang begitu cepat dan tidak linear, CFO dituntut untuk memastikan kesiapan perusahaan untuk bertahan, beradaptasi, sekaligus bergerak cepat ketika risiko muncul maupun peluang terbuka," jelasnya.
Lebih lanjut, Evi menambahkan, "CFO harus menjadi strategic partner pertumbuhan bisnis dan penciptaan nilai, memastikan setiap keputusan strategis dapat meningkatkan nilai jangka panjang perusahaan." Untuk mencapai hal ini, ia memperkenalkan pendekatan Enterprise Value Architecture (EVA), sebuah kerangka yang menempatkan fungsi keuangan sebagai perancang sistem penciptaan nilai perusahaan secara terintegrasi.
Tiga Pilar Utama Enterprise Value Architecture
Pendekatan EVA bertumpu pada tiga pilar utama yang dirancang untuk membangun ketahanan dan agilitas perusahaan:
- Financial Strength: Membangun neraca yang sehat, likuiditas kuat, dan fleksibilitas modal sebagai shock absorber untuk menghadapi guncangan ekonomi.
- Disciplined Growth: Memastikan alokasi modal hanya ditujukan untuk aktivitas yang menghasilkan nilai lebih tinggi dari biaya modal, sehingga mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
- Governance & Risk Integration: Mengintegrasikan tata kelola dan manajemen risiko ke dalam setiap keputusan strategis, memberikan kapasitas bagi organisasi untuk mengambil keputusan lebih cepat, lebih tepat, dan dengan tingkat keyakinan yang lebih tinggi.
Rekam Jejak Penciptaan Nilai di Organisasi Terdahulu
Pendekatan EVA telah terbukti efektif dalam memperkuat institusi di organisasi yang pernah dipimpin oleh Evi. Di KITB, transformasi struktur organisasi dan integrasi manajemen risiko memperkuat fondasi perusahaan dari entitas berbasis proyek menjadi institusi dengan arsitektur tata kelola yang matang dan lebih resilien. Sementara di Sucofindo, penerapan disiplin finansial dan governance berkontribusi pada pencapaian pertumbuhan kinerja tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, sekaligus menutup kesenjangan performa beberapa tahun sebelumnya.
"Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa fungsi keuangan, ketika dijalankan secara strategis, mampu menjadi motor penciptaan nilai perusahaan," ucap Evi. Sebagai Direktur Transformasi, SDM & Umum PT Surveyor Indonesia, Evi kini mengemban mandat untuk memperkuat fondasi organisasi melalui transformasi terintegrasi yang mencakup strategi, pengembangan sumber daya manusia, proses bisnis, serta tata kelola perusahaan.
Fokus Transformasi Menuju Organisasi Adaptif dan Berkelanjutan
Evi menjelaskan bahwa fokus transformasi diarahkan pada pembangunan organisasi yang adaptif dan berkelanjutan, dengan memastikan struktur, sistem, dan kapabilitas SDM mampu menjawab perubahan bisnis yang berlangsung semakin cepat dan kompleks. "Dalam proses tersebut, Surveyor Indonesia terus bergerak memperkuat perannya sebagai guardian of assurance, institusi yang tidak hanya menyediakan layanan assurance, tetapi menjadi penjaga kepercayaan bagi ekosistem industri dan pembangunan nasional," kata Evi.
Dia menutup dengan penekanan pada tujuan akhir transformasi: "Transformasi diarahkan untuk membangun perusahaan yang resilien dalam menghadapi ketidakpastian, agile dalam merespons dinamika pasar dan teknologi, serta trusted melalui konsistensi tata kelola, integritas profesional, dan kualitas keputusan berbasis risiko dan data." Dengan demikian, percepatan teknologi digital dan ketidakpastian global tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga peluang bagi CFO untuk berperan sebagai arsitek nilai yang mendorong inovasi dan keberlanjutan perusahaan.
