Arab Saudi Tinjau Ulang Agenda Vision 2030, Fokus Reformasi Berubah Arah
Jakarta - Arab Saudi mulai meninjau kembali Vision 2030, agenda diversifikasi ekonomi besar yang diluncurkan pada 2016. Penguasa de facto di Riyadh, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, saat itu memperkenalkan paket reformasi senilai 2 triliun dolar AS untuk mengurangi ketergantungan kerajaan pada minyak serta mentransformasi ekonomi dan masyarakat.
Perubahan Strategi dan Prioritas Baru
Sejak diluncurkan, Riyadh menggeser perekonomian negara pengekspor minyak terbesar dunia ke arah teknologi, pariwisata, dan energi terbarukan. Fokus lainnya mencakup pembangunan proyek-proyek raksasa berskala besar, seperti kota-kota baru, peningkatan peran sektor swasta, serta langkah modernisasi sosial, termasuk perluasan hak perempuan.
Namun pekan ini, Menteri Keuangan Mohammed al-Jadaan mengumumkan penyesuaian strategi reformasi tersebut. Dalam wawancara dengan Bloomberg, al-Jadaan mengatakan pemerintah tengah menyusun rencana lima tahun baru yang bertujuan untuk "menggandakan fokus pada pariwisata, manufaktur, logistik, dan energi."
Pendekatan yang direvisi ini berarti sejumlah proyek akan diperkecil, sebagian diperluas, dan lainnya ditunda.
Proyek-proyek Infrastruktur Ditunda atau Dipangkas
Awal bulan Februari 2026, Komite Olimpiade Arab Saudi mengumumkan bahwa Asian Winter Games 2029 akan digelar di Almaty, Kazakhstan, bukan di resor ski Trojena yang masih dalam tahap pembangunan di kawasan pegunungan proyek futuristik NEOM.
Pada 2025, cakupan NEOM sudah dipangkas: rencana awal dua gedung pencakar langit paralel sepanjang 170 kilometer kini dipersingkat menjadi 2,4 kilometer. Pada akhir Januari 2026, pembangunan The Mukaab, gedung pencakar langit berbentuk kubus di Riyadh, ditangguhkan karena pejabat meninjau ulang pendanaan dan kelayakannya.
Sebagai gantinya, Mohammed bin Salman pada Oktober 2025 mengumumkan proyek King Salman Gate, kawasan baru di dekat Masjidil Haram di Mekkah yang akan menambah sekitar 900.000 ruang salat.
Analisis dan Tantangan Ekonomi
"Setiap proyek besar pada dasarnya akan melalui fase revisi dan penyesuaian sebagai respons terhadap pertimbangan yang lebih luas," ujar Alice Gower, Direktur Geopolitik dan Keamanan di Azure Strategy, kepada DW. "Target Vision 2030 Arab Saudi sangat ambisius dan banyak proyek raksasanya, khususnya, sejak awal dapat digambarkan sebagai tidak realistis."
Gower menambahkan, kombinasi harga minyak global yang rendah, tingginya belanja pemerintah, serta populasi muda yang memerlukan lapangan kerja semakin membebani keuangan negara.
Peran Dana Investasi Publik dan Rekomendasi IMF
Revisi agenda utama negara itu didorong oleh Public Investment Fund (PIF) atau Dana Investasi Publik Arab Saudi, investor utama proyek-proyek Vision 2030. Menurut laporan Reuters, dana tersebut meningkatkan tekanan untuk mengalihkan fokus dari proyek properti mahal ke sektor-sektor yang menjanjikan imbal hasil lebih cepat.
Gubernur PIF, Yasir Al-Rumayyan, mengatakan dalam lima tahun ke depan dana tersebut akan berfokus pada enam "ekosistem", termasuk pariwisata, pengembangan perkotaan, inovasi, energi bersih, dan industri.
Reformasi Vision 2030 juga direkomendasikan dalam makalah kerja yang baru-baru ini diterbitkan oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Laporan tersebut menyoroti ketidaksesuaian antara kebutuhan pasar tenaga kerja dan keterampilan yang tersedia.
Dampak Sosial dan Kritik Hak Asasi Manusia
Meski demikian, para pengamat tidak memperkirakan akan terjadi kemarahan publik atas penyesuaian prioritas ini. Arab Saudi kerap dikritik karena catatan hak asasi manusia yang buruk dan penindasan terhadap kritik.
Julia Legner, Direktur Eksekutif lembaga pemantau HAM ALQST, mengatakan "inisiatif berskala besar yang bersifat top-down, digerakkan oleh PIF dan dikendalikan ketat oleh Mohammed bin Salman, mengecualikan sebagian besar masyarakat Arab Saudi."
Ahmed Benchemsi dari Human Rights Watch menambahkan, "Di Arab Saudi, reformasi dan represi sama-sama diberlakukan dari atas, di bawah aturan otoriter yang ketat." Secara permukaan, perubahan tampak sebagai kemajuan, namun realitas yang lebih suram muncul jika ditelaah lebih dekat.