Rupiah Terus Melemah, Indosat Fokus Jaga Stabilitas Bisnis
Rupiah Melemah, Indosat Fokus Jaga Stabilitas Bisnis

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus melemah mulai menjadi perhatian berbagai sektor industri, termasuk telekomunikasi. Sektor ini memiliki ketergantungan tinggi pada perangkat dan teknologi impor. Indosat Ooredoo Hutchison memastikan bahwa fluktuasi kurs hingga saat ini masih dapat dikelola dengan baik dan belum mengganggu stabilitas bisnis perusahaan.

Strategi Pengelolaan Risiko Indosat

Direktur dan Chief Financial Officer Indosat, Nicky Lee, menyatakan bahwa perusahaan terus mencermati dinamika makroekonomi sebagai bagian dari strategi pengelolaan bisnis yang berkelanjutan. Sebagai langkah pengelolaan risiko, kewajiban keuangan perusahaan sebagian besar didenominasikan dalam mata uang rupiah. Selain itu, Indosat juga memiliki kemampuan untuk melakukan lindung nilai atau hedging valuta asing sesuai kebutuhan guna mengantisipasi gejolak nilai tukar.

Dampak Penguatan Dolar AS

Strategi tersebut dinilai penting di tengah penguatan dolar AS yang berpotensi meningkatkan biaya operasional, terutama untuk pengadaan perangkat jaringan, infrastruktur, dan kebutuhan teknologi yang sebagian besar masih bergantung pada impor. Meski demikian, Indosat memastikan kondisi nilai tukar saat ini belum mempengaruhi komitmen perusahaan dalam menjaga kualitas layanan bagi pelanggan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

“Fluktuasi nilai tukar hingga saat ini dapat kami kelola dengan baik,” kata Nicky. Indosat menegaskan akan tetap fokus menghadirkan layanan dan pengalaman terbaik bagi pelanggan sebagai bagian dari dukungan terhadap konektivitas nasional dan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Sensitivitas Industri Telekomunikasi

Industri telekomunikasi termasuk sektor yang cukup sensitif terhadap pergerakan kurs dolar AS karena kebutuhan investasi jaringan dan teknologi masih banyak menggunakan komponen berbasis mata uang asing. Saat ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hampir menyentuh level Rp 17.800/US$. Pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), dolar AS menguat 0,29% (52 poin) atau berada di level Rp 17.795.

Pernyataan Menteri Keuangan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai anjloknya nilai tukar rupiah tidak masuk akal karena fundamental ekonomi Indonesia dinilai bagus. “Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini nggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental,” ujar Purbaya. Kendati rupiah melemah, imbal hasil di pasar obligasi Indonesia mengalami penurunan, tak lepas dari intervensi pemerintah di pasar Surat Berharga Negara melalui treasury operation demi menjaga stabilitas nilai tukar.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga