Harga beras di Jepang terus melonjak dan kini mencapai rekor tertinggi. Berdasarkan data terbaru, harga beras jenis Koshihikari per 5 kilogram kini tembus Rp 430 ribu atau sekitar 4.000 yen. Kenaikan ini dipicu oleh cuaca ekstrem dan menurunnya produksi beras di beberapa wilayah sentra.
Dampak Kenaikan Harga Beras
Kenaikan harga beras yang signifikan membuat warga Jepang mulai beralih ke bahan pangan alternatif. Banyak rumah tangga yang mulai mengganti konsumsi beras dengan mi instan dan roti. Seorang ibu rumah tangga di Tokyo mengaku terpaksa mengurangi porsi nasi dan menggantinya dengan mi untuk menekan pengeluaran.
Penyebab Lonjakan Harga
Menurut Kementerian Pertanian Jepang, produksi beras tahun ini turun 5% akibat gelombang panas dan kekeringan. Selain itu, biaya pupuk dan energi yang tinggi juga mendorong petani menaikkan harga jual. Pemerintah Jepang telah mengumumkan akan mengimpor beras dari Amerika Serikat dan Thailand untuk menstabilkan pasokan.
Respons Masyarakat
Banyak warga yang mengeluhkan kenaikan ini. Seorang pekerja kantoran di Osaka mengatakan, "Saya harus berpikir dua kali untuk membeli beras. Sekarang saya lebih sering makan roti untuk sarapan." Sementara itu, penjual mi instan dan roti melaporkan peningkatan penjualan hingga 20% dalam sebulan terakhir.
Kenaikan harga beras ini juga berdampak pada sektor kuliner. Restoran dan pedagang kaki lima terpaksa menyesuaikan harga menu mereka. Beberapa restoran bahkan mengurangi porsi nasi atau menggantinya dengan mi untuk menjaga margin keuntungan.
Prospek ke Depan
Pemerintah Jepang berjanji akan menggelontorkan bantuan pangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Selain itu, program diversifikasi pangan terus digalakkan untuk mengurangi ketergantungan pada beras. Namun, para ahli memperkirakan harga beras akan tetap tinggi hingga akhir tahun ini.



