Gubernur Bali Wayan Koster membantah adanya komunitas warga negara asing (WNA) eksklusif di Pulau Dewata. Pernyataan itu disampaikan menanggapi kontroversi event lari Silent Disco yang digelar komunitas Entourage Bali di Canggu. Acara tersebut sebelumnya ramai dikritik karena dinilai diskriminatif terhadap warga negara Indonesia (WNI).
Bantahan atas Isu Diskriminasi
Usai rapat koordinasi bersama Forkopimda Bali, Koster menegaskan bahwa tidak ada komunitas asing yang bersifat eksklusif di Bali. "Kalau komunitas eksklusif menurut saya di Bali ini dulu pernah ada komunitas tempat tinggal (Kampung Rusia), ternyata itu sudah tidak ada lagi, nah sekarang juga tidak ada," ujar Koster, dikutip dari Antara, Rabu (29/7/2026).
Lebih lanjut, Koster mengklarifikasi event Silent Disco yang ramai diberitakan. "Yang Silent Disco saya dapat laporan itu ternyata tidak seperti yang diberitakan, orang Indonesianya ada, jadi tidak benar kabar itu," tegasnya. Dengan demikian, ia memastikan tidak ada unsur diskriminasi dalam kegiatan tersebut karena WNI turut berpartisipasi.
Kondisi Bali Tetap Kondusif
Koster menjamin kondisi Bali tetap kondusif, termasuk dalam urusan yang melibatkan WNA. Pernyataan itu diperkuat oleh laporan dari jajaran keamanan. "Secara umum, laporan dari Bapak Kapolda, Bapak Danrem, Bapak Kajati, Kabinda, itu secara umum kondisi Bali ini baik, kondusif, aman, hanya memang kita harus bisa membedakan dinamika di media sosial yang menjadi banyak pertanyaan-pertanyaan seakan Bali ini sesuatu yang terganggu, sebenarnya tidak seperti itu adanya," jelas Koster.
Pemerintah Provinsi Bali memastikan akan terus melakukan evaluasi dan peningkatan intensitas kerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing instansi. "Semua itu dalam rangka menjaga agar Bali tetap terjaga dengan baik sebagai destinasi wisata utama dunia, maupun juga kepentingan internal kita sebagai bagian daripada penegakan hukum di Indonesia," kata Koster.
Aktivitas Lari Tidak Dilarang
Menanggapi kekhawatiran bahwa kontroversi ini akan menghentikan aktivitas lari di Bali, Koster menilai hal itu tidak perlu dilakukan. Menurutnya, Bali sebagai wilayah yang mendorong wisata olahraga mempersilakan aktivitas lari selama tidak mengganggu ketertiban. "Kan lari biasa saja boleh tidak ada hal yang perlu dirisaukan sepanjang dia tidak mengganggu, ini kan dilakukan pagi hari, kan tidak ada terganggu biasa saja, kita-kita juga sering lari kan," katanya.
Sebagai informasi, event Silent Disco oleh Entourage Bali menuai kritik karena hanya diperuntukkan bagi WNA. Dirjen Imigrasi sebelumnya juga mengecam acara tersebut dan menyebutnya seperti "negara dalam negara". Namun, klarifikasi dari Gubernur Koster diharapkan meredakan ketegangan dan memastikan Bali tetap terbuka bagi semua wisatawan tanpa diskriminasi.



