Prakiraan Cuaca Jabodetabek 11 Februari 2026: Berawan Tebal dan Hujan Ringan Mendominasi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca untuk wilayah Jabodetabek pada Rabu, 11 Februari 2026. Kondisi atmosfer diprediksi akan didominasi oleh awan tebal sepanjang hari, dengan kemungkinan hujan ringan di beberapa area pada siang hari.
Kondisi Cuaca Per Wilayah di Jabodetabek
Pada pagi hari, hampir seluruh wilayah DKI Jakarta, termasuk Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara, diperkirakan mengalami cuaca berawan tebal. Sementara itu, Kepulauan Seribu berpotensi diguyur hujan ringan sejak dini hari.
Memasuki siang hari, hujan ringan diperkirakan mulai turun di beberapa wilayah Jakarta, seperti Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat. Di sisi lain, Kepulauan Seribu justru akan beralih menjadi berawan tebal. Pada malam hari, kondisi berawan tebal kembali mendominasi seluruh wilayah DKI Jakarta dan Kepulauan Seribu.
Untuk daerah penyangga, prakiraan cuaca menunjukkan variasi sebagai berikut:
- Bogor, Bekasi, dan Depok: Pagi hari berawan tebal, siang hari hujan ringan (kecuali Bogor yang diprakirakan hujan disertai petir), malam hari kembali berawan tebal.
- Tangerang: Pagi hari berawan tebal, siang hari hujan ringan, malam hari kembali berawan tebal.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang cepat, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hingga malam hari. Pengguna jalan juga diminta berhati-hati karena hujan ringan dapat membuat permukaan jalan menjadi licin.
Peringatan Cuaca Ekstrem di Nusa Tenggara Barat
Selain prakiraan cuaca Jabodetabek, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini untuk wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Cuaca ekstrem berpotensi melanda NTB pada periode 10 hingga 14 Februari 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG NTB, Satria Topan Primadi, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer saat ini menunjukkan aktivitas signifikan di sekitar wilayah NTB. Hal ini ditandai dengan kemunculan gelombang frekuensi rendah dan gelombang ekuatorial Rossby yang aktif, serta pertemuan angin dan perlambatan kecepatan angin yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
Faktor utama lainnya adalah kelembapan udara yang relatif basah di berbagai lapisan atmosfer dan labilitas atmosfer yang kuat. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan Kumulonimbus, yang dapat menyebabkan:
- Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai petir atau kilat dan angin kencang.
- Gelombang laut setinggi 1,25 meter hingga 2,5 meter di beberapa perairan NTB, seperti Selat Lombok bagian Utara dan Selatan, Selat Alas bagian Selatan, Selat Sape bagian Selatan, dan Samudra Hindia sebelah selatan NTB.
BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kebijakan di NTB untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, petir, dan pohon tumbang. Langkah mitigasi yang disarankan termasuk pengecekan infrastruktur drainase, penyuluhan kepada masyarakat, serta peningkatan koordinasi antarinstansi dalam penanganan potensi bencana.
Informasi prakiraan cuaca ini dikutip dari laman resmi BMKG dan diharapkan dapat menjadi panduan bagi masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari.