PT MRT Jakarta (Perseroda) menegaskan bahwa Pedestrian Deck Dukuh Atas tidak sekadar berfungsi sebagai penghubung berbagai moda transportasi umum. Infrastruktur ini diproyeksikan menjadi ikon baru Jakarta yang mengombinasikan aspek konektivitas, ruang publik, desain, dan edukasi dalam satu kawasan terpadu.
Kepastian ini disampaikan dalam rangkaian MRTJ Fellowship Program 2026 di Jakarta. Salah satu konsep yang direncanakan adalah menghadirkan galeri sejarah Jenderal Sudirman di area pedestrian deck yang menghadap langsung ke Patung Jenderal Sudirman.
Galeri Sejarah Jenderal Sudirman
Advisor Program Management Office Division PT MRT Jakarta (Perseroda), Agus Trihan, mengungkapkan bahwa galeri tersebut akan memberikan informasi mengenai sosok Jenderal Sudirman dan sejarah pembangunan patung yang menjadi salah satu ikon di Jalan Jenderal Sudirman. Menurut Agus, pengguna transportasi yang melintas tidak hanya menikmati pemandangan patung, tetapi juga mendapatkan pengetahuan tentang perjalanan hidup tokoh nasional tersebut.
“Jadi, ketika orang melihat patung tersebut, mereka juga mendapatkan informasi edukasi mengenai siapa sosok Jenderal Sudirman dan kapan patung itu dibangun,” kata Agus.
Kehadiran galeri ini diharapkan memperkaya fungsi pedestrian deck sebagai ruang publik yang tidak hanya fungsional, tetapi juga edukatif.
Desain Lingkaran Selaras dengan Ikon Jakarta
Selain aspek edukasi, desain Pedestrian Deck Dukuh Atas juga dibuat berbentuk lingkaran atau cincin. Agus menjelaskan, bentuk ini dipilih untuk menyelaraskan desain bangunan dengan karakter sejumlah ikon Jakarta yang telah hadir terlebih dahulu.
“Kalau lihat bangunan-bangunan atau ikon-ikon di Jakarta mulai dari Bundaran Senayan, GBK (Gelora Bung Karno), hingga Bundaran HI, semuanya bentuknya lingkaran, ya. Jadi, pedestrian deck juga memiliki desain yang selaras,” ujar Agus.
Beberapa ikon Jakarta yang juga mengusung bentuk lingkaran antara lain:
- Bundaran Senayan
- Gelora Bung Karno (GBK)
- Bundaran HI
- Taman Literasi Martha Christina Tiahahu
- Halte Integrasi CSW
- Bundaran Patung Kuda
- Jakarta International Stadium (JIS)
Agus menambahkan bahwa rancangan yang saat ini dipaparkan masih berupa basic design atau desain dasar. Desain akhir akan dikerjakan oleh kontraktor sesuai dengan peraturan yang berlaku, termasuk kemungkinan penambahan unsur budaya Betawi maupun elemen yang merepresentasikan identitas Jakarta.
“Sebenarnya ini baru basic design, untuk desain final akan dikerjakan oleh kontraktor sesuai dengan peraturan yang berlaku. Jika memang diperlukan penempatan ornamen ikon Jakarta, tentu kami akan mengikutinya,” kata dia.
Kapasitas Beban Hingga 500 Kilogram per Meter Persegi
Pedestrian Deck Dukuh Atas tidak hanya mengutamakan nilai estetika dan edukasi, tetapi juga kenyamanan serta keamanan pejalan kaki. Struktur bangunan dirancang memiliki kapasitas beban hingga 500 kilogram per meter persegi.
“Pedestrian Deck ini didesain memiliki kekuatan beban 500 kilogram per meter persegi,” kata Agus.
Kapasitas ini diyakini mampu menampung aktivitas pejalan kaki yang padat, termasuk ketika terjadi lonjakan pengguna pada jam sibuk atau saat penyelenggaraan acara di kawasan tersebut.
Pelebaran Jalur untuk Antisipasi Kepadatan
MRT Jakarta juga menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi kepadatan pengguna. Jalur utama pedestrian deck yang semula memiliki lebar sekitar empat hingga lima meter akan diperlebar menjadi tujuh meter di area utara dan selatan.
“Jalur utama yang biasanya lebar empat hingga lima meter akan diperlebar menjadi tujuh meter di area utara dan selatan agar tidak terjadi penumpukan atau bottleneck bagi pejalan kaki,” ujarnya.
Langkah ini diambil berdasarkan evaluasi pola pergerakan pejalan kaki di kawasan Dukuh Atas yang kerap ramai, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja.
Menghubungkan Empat Kuadran dan Moda Transportasi
Pedestrian Deck Dukuh Atas nantinya akan menghubungkan sejumlah moda transportasi umum sekaligus menyatukan empat kuadran kawasan Dukuh Atas yang selama ini terpisah oleh Jalan Jenderal Sudirman dan Sungai Ciliwung.
Fasilitas ini akan melengkapi konektivitas kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) yang telah dibangun sebelumnya. Beberapa infrastruktur yang sudah ada di antaranya Terowongan Kendal, jalur pedestrian Jalan Blora, dan Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) Dukuh Atas.
Dengan hadirnya pedestrian deck, pergerakan pengguna antarmoda akan semakin ringkas dan terintegrasi, sejalan dengan konsep TOD yang dikembangkan MRT Jakarta.
Jadwal Pembangunan dan Nilai Investasi
Secara teknis, Pedestrian Deck Dukuh Atas dirancang berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 100 meter. Struktur sepanjang lebih dari 300 meter itu akan membentang di atas Jalan Jenderal Sudirman dan Sungai Ciliwung, serta ditopang oleh empat titik tiang utama.
Pembangunan fisik proyek ditargetkan dimulai pada November 2026 dan dijadwalkan rampung pada 2028. Saat ini proyek masih berada dalam tahap tender dengan nilai investasi sekitar Rp361,7 miliar yang seluruhnya dibiayai oleh PT MRT Jakarta.
Dengan berbagai fitur yang diusung, Pedestrian Deck Dukuh Atas diharapkan menjadi ruang publik baru yang tidak hanya mempermudah mobilitas, tetapi juga memperkuat identitas Jakarta sebagai kota dunia.



