80 Selang Jadi Nadi Kehidupan Warga Kalidadap Bantul
80 Selang Jadi Nadi Kehidupan Warga Kalidadap Bantul

Siang itu, belasan warga Dusun Kalidadap I dan II, Selopamioro, Imogiri, Bantul, D.I. Yogyakarta, duduk bersabar di bawah rindangnya pohon dekat Sendang Wonosari. Mereka menunggu giliran mengambil air dari sumber mata air yang menjadi penopang hidup sehari-hari. Dari anak muda hingga lansia, mereka hadir dengan selang masing-masing yang menjulur dari bibir sendang.

Mengandalkan Gravitasi, Tanpa Mesin

Air dari Sendang Wonosari dialirkan tanpa bantuan mesin atau pompa. Warga hanya perlu menyedot ujung selang dengan mulut sampai air masuk ke dalam pipa plastik. Setelah itu, perbedaan ketinggian antara sumber mata air dan rumah-rumah di lereng perbukitan kapur membuat air terus mengalir dengan sendirinya. Cara ini sudah dipakai puluhan tahun, bahkan jauh sebelum sebagian besar warga lahir.

Di kawasan yang belum dijangkau saluran PDAM ini, sendang menjadi tumpuan utama. Airnya dipakai untuk minum, memasak, mandi, hingga kebutuhan ternak. Saat kemarau melanda, debit air mengecil dan warga harus menunggu lebih lama. Meski demikian, tak pernah ada perebutan. Mereka justru memilih berbagi giliran.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menurut Teguh (27), seorang warga Kalidadap I, rutinitas berkumpul di sendang berlangsung setiap hari pada pukul 06.00, 08.00, dan 14.00 WIB. Waktu-waktu tersebut dipilih sebelum sebagian besar air dialihkan untuk mengairi lahan pertanian di lereng bawah. "Kalau di sini, jam sekian ngumpul di sini. Nunggu kalau airnya sudah penuh, nanti kita sedot bersama-sama," katanya.

Selang 600 Meter dan Teknik Menyambung

Sedikitnya ada sekitar 80 selang yang terpasang dari Sendang Wonosari ke rumah-rumah warga. Masing-masing memiliki panjang berbeda, tergantung jarak rumah dari mata air. Salah satu yang terpanjang adalah milik Teguh. Ia mengaku memakai 12 gulung selang dengan total panjang mencapai sekitar 600 meter. "Punya saya 12 roll, satu roll-nya 50 meter," ujarnya.

Rumah Teguh berada paling jauh dibanding warga lain, sehingga selangnya membentang mengikuti kontur jalan sampai ke halaman rumah. Meski terlihat sederhana, mengalirkan air dengan selang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Warga harus melepas setiap sambungan selang terlebih dahulu supaya udara di dalamnya keluar. Jika tidak, aliran air bisa tersendat atau bahkan tidak sampai ke rumah.

"Jadi setiap sambungan selang itu perlu diputus dulu. Kalau nggak gitu, nanti airnya nggak sampai atau ngalirnya lambat. Kalau sudah ngalir, baru sambung lagi," jelas Teguh. Karena banyak selang yang saling bersilangan, setiap pemilik memberi tanda khusus agar mudah mengenali miliknya masing-masing.

Teguh pun kerap mengalami momen merepotkan. Suatu ketika, bak penampungan di rumahnya kosong saat ia ingin buang air. Ia harus kembali mendaki ke sumber mata air dan menyedot selang dari awal. "Iya, repot juga kalau pas seperti itu," katanya sambil terkekeh.

Sejak 1977, Jalan Kaki yang Menyehatkan

Di dekat Teguh, Sagi (72) warga Kalidadap I juga tengah memeriksa selang miliknya. Pria lanjut usia ini memiliki enam gulung selang yang membentang dari sendang ke rumahnya. Di usia yang tak lagi muda, ia tetap mantap menelusuri jalan setapak naik turun untuk memastikan air benar-benar mengalir. Ia meraba permukaan selang; jika terasa dingin, pertanda air sudah bergerak di dalamnya.

Ketika jarum jam menunjukkan hampir pukul 15.00 WIB, Sagi tiba di rumah dan mengangkat ujung selang. Air yang keluar kemudian dialirkan ke tembikar tua sebagai penampungan air minum ternak. Kepada CNN Indonesia, Sagi menuturkan bahwa kebiasaan menyedot selang ini sudah dijalaninya sejak 1977. "Sudah dari tahun '77," ujarnya.

Baginya, selang adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup. Meski harus berjalan kaki naik turun, ia tak menganggapnya beban. "Di sana [sumber air] nggak pernah kering, tetap ada airnya. Ya jalan kaki itu cuma buat lihat airnya aja, disedot susah atau nggak. Cuma pas musim hujan bedanya bisa luber-luber," tutur Sagi.

Justru aktivitas itu yang membuat tubuhnya tetap bugar. "Mondar-mandir juga sehat, alhamdulillah. Semua berjalan, bisa buat hidup, tidak perlu bergantung pada orang lain," ucapnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Harapan Sumur Bor dan Bantuan Pamsimas

Suroso (31), Kepala Dusun Kalidadap II, menyebut ada sekitar 330 kepala keluarga di wilayahnya. Jumlah serupa juga ada di Kalidadap I. Sebagian warga memang memiliki sumur dangkal di sekitar rumah dengan kedalaman bervariasi antara 8 hingga 10 meter. Namun, banyak juga yang hanya bergantung pada Sendang Wonosari.

"Yang nggak pakai dari situ, biasanya pakai sumur dangkal. Bervariasi dalamnya, ada yang 8-10 meter," kata Suroso. Dusun Kalidadap II sebenarnya pernah memiliki sumur bor. Sayangnya, karena terlalu banyak pengguna, pompa tersebut sering rusak. Biaya perbaikan yang terus membengkak membuat dana pengelolaan habis dan fasilitas itu akhirnya terbengkalai.

Ketika kemarau berkepanjangan, krisis air bersih pernah melanda. Saat itu, warga terpaksa membeli air bersih secara swadaya atau mengajukan bantuan droping air. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk turun tangan. Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Mujahid Amrudin, mengatakan timnya telah melakukan survei ke Kalidadap dan berkoordinasi dengan Pemda DIY soal alternatif pembangunan sumur bor maupun program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).

"Ini terbuka peluang, karena kami sudah komunikasi dengan BPBD DIY. Mungkin nanti bisa dibantu," ujar Mujahid. Harapan itu tentu dinanti warga yang selama puluhan tahun mengandalkan selang dan gravitasi untuk menghidupi keluarga mereka.