Kehadiran jembatan Bailey di Kampung Linge, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, membawa harapan baru bagi ribuan warga di lima desa yang sebelumnya sempat terisolir. Akses utama mereka putus akibat bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah itu pada akhir November 2025.
Ucapan Syukur dari Tokoh Masyarakat
Tokoh masyarakat Kampung Linge, Abdul Salam, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera serta aparat TNI yang telah membangun jembatan tersebut dalam waktu singkat. Masyarakat kini bisa kembali melintas dengan aman.
"Kami ucapkan ribuan terima kasih dengan dibangun jembatan ini. Kami sudah bisa melintas kembali," ujar Abdul Salam dalam keterangan tertulis, Kamis (21/5/2026).
Satu-satunya Akses ke Takengon
Menurutnya, jembatan itu menjadi satu-satunya akses utama masyarakat dari lima desa menuju pusat ibu kota Kabupaten Aceh Tengah di Takengon. Desa-desa tersebut yakni Kampung Linge, Jamat, Delung Sekinel, Kutereje, dan Reje Payung.
"Ini cuma satu-satunya jalan lintas kami ke sana. Tidak ada jalan lain, buntu. Harapan kami selanjutnya supaya segera dibangun (jembatan) permanen. Karena kalau hujan datang, ini bisa longsor sedikit demi sedikit," kata Abdul Salam.
Aktivitas Warga Kembali Normal
Meski demikian, masyarakat mengaku sangat terbantu dengan hadirnya jembatan Bailey tersebut. Aktivitas warga kini kembali normal, mulai dari anak-anak yang berangkat sekolah hingga warga sakit yang membutuhkan akses cepat menuju fasilitas kesehatan.
"Alhamdulillah, dengan waktu singkat sudah dibangun jembatan seperti ini. Kami merasa sangat bersyukur kepada pemerintah," tambah Abdul Salam.
Keterlibatan Warga dalam Pembangunan
Perangkat Desa Linge, Ramidinsah, mengatakan pembangunan jembatan Bailey tersebut juga ikut melibatkan warga setempat. Sebelum jembatan Bailey terbangun, warga mengandalkan jembatan darurat hasil gotong royong mandiri.
Jembatan Bailey di Sungai Kala Ili selesai dibangun oleh aparat TNI pada 4 Mei 2026. Kehadirannya kini kembali menghubungkan lima desa yang sempat terisolir akibat putusnya jembatan lama karena bencana hidrometeorologi tahun lalu.
"Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu. Akses masyarakat sekarang kembali terkoneksi," tutup Ramidinsah.



