Wakil Ketua Komisi XII DPR Optimistis RI Capai Net Zero Emission 2060
DPR Optimistis RI Capai Net Zero Emission 2060

Wakil Ketua Komisi XII DPR Optimistis RI Capai Net Zero Emission 2060

Wakil Ketua Komisi XII DPR, Putri Zulkifli Hasan, menyatakan optimisme bahwa Indonesia dapat mencapai target net zero emission pada tahun 2060. Dalam wawancara eksklusif dengan detikcom, Kamis (12/2/2026), Putri Zulhas menekankan bahwa pencapaian target tersebut sangat mungkin jika berbagai potensi energi bersih dioptimalkan secara maksimal.

Transisi Energi Bersih dan Peran Mobil Listrik

Putri Zulhas menjelaskan bahwa transisi menuju energi bersih merupakan kunci utama. Ia mengingatkan bahwa pemerintah telah menargetkan bauran energi baru terbarukan sebesar 17,75% pada 2025. "Salah satu upaya konkret adalah dengan mendorong penggunaan mobil listrik, yang dapat secara signifikan mengurangi emisi udara," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti manfaat ganda dari program mobil listrik, termasuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak impor. "Mobil listrik memiliki peran dan manfaat yang sangat besar dalam mendukung transisi energi bersih menuju net zero emission 2060," tambah politisi dari Fraksi PAN tersebut.

Dukungan Indonesia Battery Corporation dan Isu Daur Ulang

Putri Zulhas juga menyebutkan pentingnya peran Indonesia Battery Corporation dalam mendukung program net zero emission. Namun, ia mengingatkan adanya tantangan terkait pengelolaan limbah baterai dari kendaraan listrik.

"Baterai mobil listrik memiliki masa pakai sekitar 7-8 tahun sebelum performanya menurun. Penggantian baterai bisa sangat mahal, dan ini menjadi perhatian serius," katanya.

Ia mendorong pengembangan ekosistem daur ulang baterai bekas. "Baterai yang sudah terpakai seharusnya tidak diperlakukan sebagai limbah B3, tetapi dapat didaur ulang dan digunakan kembali. Ini akan mendukung keberlanjutan program mobil listrik," tegas Putri Zulhas.

Potensi Besar Panas Bumi yang Belum Optimal

Di sisi lain, Putri Zulhas mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki cadangan energi panas bumi yang sangat besar, mencapai sekitar 23.000 megawatt. Sayangnya, pemanfaatannya masih sangat minim.

"Dari potensi sebesar itu, baru sekitar 2.700 megawatt yang dimanfaatkan. Artinya, kita baru menggunakan sekitar 12% dari total cadangan yang ada," ujarnya.

Tantangan Investasi dan Regulasi

Putri Zulhas merincikan sejumlah tantangan yang menghambat optimalisasi panas bumi di Indonesia:

  • Nilai investasi yang besar disertai risiko tinggi, terutama dalam fase eksplorasi pengeboran.
  • Regulasi yang kompleks, karena banyak pembangkit listrik tenaga panas bumi berlokasi di kawasan hutan.

"Risiko kegagalan eksplorasi sering membuat investor ragu-ragu. Diperlukan kepastian regulasi dan insentif untuk menarik investasi di sektor ini," pungkasnya.