Pertamina Pacu Swasembada Aviasi Hijau dengan Biorefinery Cilacap Olah Jelantah
Biorefinery Cilacap Olah Jelantah Jadi Avtur Berkelanjutan

Pertamina Pacu Swasembada Aviasi Hijau dengan Biorefinery Cilacap Olah Jelantah

Pertamina secara aktif mengembangkan Proyek Biorefinery Cilacap di Jawa Tengah, yang bertujuan memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO). Inisiatif ini menjadi bagian strategis dalam mendukung transisi energi bersih sekaligus memperkuat swasembada energi nasional, khususnya di sektor penerbangan.

Peningkatan Kapasitas Produksi yang Signifikan

Melalui pembangunan Biorefinery Cilacap Phase 2, kapasitas produksi SAF yang sebelumnya mencapai 27 kiloliter per hari ditargetkan meningkat drastis menjadi 887 kiloliter per hari pada 2029. Peningkatan ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada avtur berbasis fosil dan menjaga ketahanan pasokan energi aviasi nasional secara berkelanjutan.

Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini, menegaskan bahwa proyek ini memiliki nilai strategis yang kuat dan sejalan dengan kebijakan pemerintah. "Biorefinery Cilacap merupakan program strategis yang selaras dengan Program Asta Cita Pemerintah, khususnya terkait swasembada energi, hilirisasi, industrialisasi, serta pemerataan ekonomi," ujarnya seperti dilansir Antara.

Dampak Ekonomi, Lingkungan, dan Sosial yang Luas

Proyek ini tidak hanya fokus pada produksi energi, tetapi juga memberikan dampak berganda yang signifikan bagi Indonesia:

  • Dampak Ekonomi: Berpotensi memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto nasional hingga Rp199 triliun per tahun.
  • Dampak Lingkungan: Berkontribusi pada pengurangan emisi karbon hingga 600 ribu ton CO₂ per tahun.
  • Dampak Sosial: Mendorong penyerapan sekitar 5.900 tenaga kerja, meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 30 persen, serta melibatkan masyarakat melalui program pengumpulan minyak jelantah di bank sampah.

Strategi Jangka Panjang untuk Daya Saing Nasional

Pengembangan bioavtur di Cilacap dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat posisi Indonesia menuju swasembada energi nasional. Proyek ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk:

  1. Mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
  2. Meningkatkan daya saing Indonesia di tengah persaingan global sektor energi dan aviasi.
  3. Memperkuat bargaining position Indonesia dalam menciptakan ekosistem energi berbasis sumber daya domestik.

Emma menambahkan, "Ini salah satu proyek percontohan yang cukup lengkap, banyak sekali multiplier effect yang kita peroleh. Bisa mengurangi impor, menciptakan lapangan pekerjaan, dan menjadi energi hijau yang mengurangi karbon emisi serta polusi."

Sinergi Hilirisasi dan Ekonomi Hijau

Biorefinery Cilacap juga menjadi bagian dari lima Proyek Hilirisasi Danantara di sektor energi dan selaras dengan strategi Dual Growth Pertamina, yakni pengembangan bisnis rendah karbon yang berjalan seiring dengan penguatan bisnis eksisting. Untuk menjaga keberlanjutan SAF, Pertamina membangun sinergi dari hulu hingga hilir dengan seluruh pemangku kepentingan guna menciptakan ekosistem yang terintegrasi dan berdaya saing global.

"Pengembangan Biorefinery Cilacap menjadi fondasi jangka panjang bagi penguasaan teknologi, peningkatan daya saing bangsa, serta wujud sinergi seluruh elemen dalam membangun masa depan energi yang berkelanjutan," tandas Emma.