InJourney Paparkan Tiga Tantangan Krusial bagi Pariwisata Nasional dalam Dialog di Bali
Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, turut berpartisipasi aktif dalam dialog pemerintah dengan pelaku industri pariwisata yang digelar di Bali. Dalam kesempatan ini, Direktur Utama InJourney, Maya Watono, secara rinci memaparkan berbagai tantangan yang dihadapi industri pariwisata di Bali, lengkap dengan usulan solusi konkret untuk mengatasinya.
Partisipasi InJourney ini bertujuan memberikan kontribusi nyata dalam upaya meningkatkan daya saing global pariwisata Indonesia. Dialog tersebut dirancang untuk menyerap aspirasi langsung dari pelaku usaha, sebagai langkah strategis memperkuat kemajuan dan ketangguhan sektor pariwisata nasional.
Tiga Tantangan Utama yang Dihadapi Sektor Pariwisata
Maya Watono menyampaikan tiga tantangan utama yang perlu ditangani secara terintegrasi untuk memperkuat daya saing sektor aviasi dan pariwisata Indonesia. Pemetaan ini menekankan tiga prioritas kunci: konektivitas, infrastruktur dan akomodasi, serta pembangunan destinasi dan promosi.
Dari sisi konektivitas, tantangan utama meliputi keterbatasan armada penerbangan domestik, terbatasnya penerbangan langsung internasional ke berbagai bandara di Indonesia, serta belum optimalnya skema insentif dan kemitraan untuk menarik dan mempertahankan rute maskapai internasional.
"Untuk menjawab hal tersebut, InJourney mendorong langkah-langkah penguatan konektivitas melalui evaluasi regulasi terkait yang dapat meningkatkan inbound traffic di destinasi pariwisata prioritas, serta pemberian insentif pembukaan rute baru dikombinasikan dengan program joint promotion bersama maskapai inbound," jelas Maya dalam keterangan tertulis, Minggu (15 Februari 2026).
Infrastruktur dan Akomodasi yang Perlu Ditingkatkan
Pada aspek infrastruktur dan akomodasi, peningkatan trafik di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (DPS) belum sepenuhnya diimbangi dengan akses menuju bandara yang memadai. Selain itu, konektivitas darat antar destinasi prioritas masih dibatasi oleh infrastruktur jalan yang belum optimal.
Sebagai solusi, InJourney menekankan pentingnya penyelarasan pembangunan transportasi intermoda terintegrasi sebagai akses utama menuju bandara. Diperlukan juga percepatan peningkatan infrastruktur di destinasi prioritas, seperti jalan, utilitas, dan alternatif aksesibilitas darat seperti water taxi, dukungan jalan tol, serta aksesibilitas untuk kawasan pariwisata.
Pembangunan Destinasi dan Promosi yang Lebih Kuat
Sementara itu, pada pembangunan destinasi dan promosi, penguatan branding dan pemasaran destinasi, khususnya anchor attraction, masih membutuhkan dukungan promosi yang lebih kuat untuk menciptakan daya tarik berkelanjutan dan meningkatkan length of stay. Skema pendanaan dan insentif untuk menarik serta mempertahankan event internasional berskala global juga masih terbatas.
InJourney mengusulkan beberapa solusi, antara lain:
- Pemberian insentif bagi travel agent sebagai katalis promosi dan pengembangan kawasan.
- Pemberian insentif finansial untuk aktivitas eksternal yang mempromosikan destinasi utama, seperti produksi film dan kolaborasi dengan travel agent global.
- Promosi berbasis industri kreatif.
- Pembentukan Quality Tourism Fund sebagai dukungan pendanaan bagi event internasional seperti MotoGP, konser, dan berbagai global event lainnya.
"Melalui pemetaan isu ini, InJourney menegaskan kebutuhan kolaborasi lintas pemangku kepentingan agar penguatan konektivitas, aksesibilitas, dan promosi destinasi berjalan dalam satu orkestrasi kebijakan. Target akhirnya jelas menciptakan pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi ekonomi lokal dan nasional," kata Maya.
Sinergi Pemerintah dan Pelaku Usaha untuk Masa Depan Pariwisata
Pertemuan ini menjadi ruang dialog penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus bermitra erat dengan pelaku wisata dari berbagai sektor. Sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing global pariwisata Indonesia dengan mengedepankan prinsip keberlanjutan dan ketangguhan ekonomi bagi bangsa.
Dialog tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming, Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana, Menteri UMKM Maman Abdurrahman, Gubernur Bali Wayan Koster, Wakil Menteri Pariwisata RI Ni Luh Puspa, serta perwakilan kementerian dan lembaga, seluruh Bupati dan Wali Kota dari Provinsi Bali.
Pelaku usaha yang hadir meliputi perwakilan dari berbagai asosiasi, seperti PHRI (pariwisata), ARKI (jasa perjalanan wisata), GAHAWISRI (usaha wisata tirta), ASPERAPI, INCCA, IVENDO (penyelenggara kegiatan MICE), INACA (jasa transportasi wisata), dan GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia).