Kisah Pelaut Terjebak di Selat Hormuz: Hidup di Tengah Ancaman Drone dan Rudal
Kapal kargo Thailand terbakar setelah dihantam proyektil di perairan utara Oman pada 11 Maret 2026, menandai eskalasi ketegangan di kawasan Teluk. Kejadian ini terjadi di tengah ancaman Iran untuk menembaki kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan AS-Israel. Drone, rudal jelajah, dan jet tempur kini menjadi pemandangan biasa bagi para pelaut yang terjebak di kapal-kapal tersebut.
Suasana Mencekam di Laut
"Saya melihat drone dan rudal jelajah Iran terbang rendah," kata Amir, seorang pelaut Pakistan yang berada di atas kapal tanker di Uni Emirat Arab. "Saya juga mendengar suara jet tempur, tapi kami tidak bisa mengidentifikasi milik negara mana." Yang paling menakutkan, menurutnya, adalah kemungkinan drone atau rudal yang dicegat jatuh tepat di kapal tempatnya bekerja.
Hein, pelaut Myanmar, menyaksikan baku tembak hampir setiap hari. "Baru pagi ini, dua jet tempur saling menembak saat kami masih bekerja," ujarnya. "Tidak ada tempat berlindung khusus di kapal untuk situasi seperti ini, jadi kami hanya bisa berlari masuk ke dalam." Nama Amir dan Hein, serta pelaut lain, telah diubah demi keselamatan mereka.
Ribuan Pelaut Terdampar
Kapten Anam Chowdhury, ketua Asosiasi Perwira Angkatan Laut Niaga Bangladesh, memperkirakan sekitar 20.000 pelaut terdampar di kapal-kapal di Timur Tengah. Sebagian berada di laut lepas, sebagian lagi terjebak di pelabuhan. "Di dalam pelabuhan, orang mungkin berpikir situasinya aman, tetapi sudah ada kapal-kapal yang dibombardir saat sedang berlabuh," jelasnya.
Organisasinya melacak setidaknya tujuh kapal yang terkena proyektil dan mengalami kerusakan sejak perang berlangsung. Pada 1 Maret, seorang pelaut tewas di atas kapal tanker Skylark, yang terdaftar di Republik Palau. Kapten Chowdhury menyebut para pelaut yang selamat "mengalami trauma" akibat serangan tersebut.
Nasib Tiga WNI yang Hilang
Serangan terhadap kapal-kapal di perairan Teluk telah menyebabkan tiga warga Indonesia hilang. Kejadian bermula ketika perahu tunda Musaffah 2, berbendera Uni Emirat Arab, berlayar di Selat Hormuz pada 6 Maret 2026 pukul 02.00 waktu setempat. Kapal itu mengalami ledakan yang menyebabkan kebakaran dan tenggelam.
Dari tujuh awak kapal, empat berasal dari Indonesia, tiga lainnya dari India dan Filipina. Akibat ledakan, tiga ABK asal Indonesia belum diketahui nasibnya, sementara satu ABK WNI mengalami luka-luka.
Kesulitan Komunikasi dan Navigasi
Keluarga para pelaut diliputi kecemasan karena pemerintah Iran memblokir akses internet dan jaringan telepon. Ali Abbas, yang putranya berada di kapal di pelabuhan Iran dekat Selat Hormuz, terakhir berbicara beberapa hari lalu saat sang anak menceritakan serangan rudal. "Saya menyembunyikan hal ini dari istri dan menantu saya," ujarnya dengan suara bergetar.
Seo-jun, kapten kapal dengan awak Korea Selatan dan Myanmar, melaporkan gangguan sistem navigasi satelit. "Sejak perang dimulai, gangguan GPS muncul secara berkala, tetapi dalam tiga atau empat hari terakhir kondisinya jauh lebih buruk," katanya. Saat memasuki Dubai, mereka terpaksa bernavigasi tanpa GPS, seperti "orang buta meraba gagang pintu" menurut pepatah Korea.
Kekurangan Persediaan dan Kondisi Memprihatinkan
Banyak pelaut khawatir persediaan air dan makanan akan habis. Di kapal Seo-jun, makanan segar masih cukup untuk 15 hari, tetapi ketersediaan air minum menjadi masalah utama. "Kapal bisa memproduksi air tawar dengan menyuling air laut, tetapi itu jadi sulit jika kami tidak berlayar," ujarnya.
Masood, pelaut Pakistan, mengatakan sudah dua bulan sejak terakhir mengisi perbekalan. Hein menambahkan bahwa kini sistem kuota diberlakukan: mereka hanya mendapat satu kali makan sehari dengan empat potong kecil daging dan satu mangkuk sayuran goreng. Persediaan diperkirakan hanya cukup untuk satu bulan. "Hidup kami sangat memprihatinkan di sini dan kami hanya memiliki sedikit bahan bakar dan makanan," kata Zeeshan, pelaut Pakistan lainnya.
Rencana Evakuasi dan Tekanan Psikologis
Hein, sebagai insinyur senior, telah menyiapkan rencana evakuasi darurat. "Saya sudah memberi tahu tim saya bagaimana harus berlari, dari mana harus melompat, dan apa yang harus dibawa jika sesuatu terjadi," ujarnya. Namun, situasi tetap menegangkan. "Tidak ada yang bisa merasa tenang atau bahagia dalam situasi seperti ini," kata Amir.
Bahkan jika berhasil mencapai daratan, banyak pelaut tidak diizinkan pergi karena perusahaan menahan paspor mereka. Mereka yang meninggalkan kapal sebelum kontrak selesai berisiko masuk daftar hitam perusahaan pelayaran.
Seruan untuk Keselamatan dan Pertimbangan Kemanusiaan
Amir mendesak perusahaan pelayaran agar tidak memaksa awak melintasi Selat Hormuz. "Nyawa manusia tidak bisa digantikan oleh asuransi apa pun," tegasnya. Dia khawatir tekanan finansial bisa mengalahkan pertimbangan keselamatan.
Kapten Chowdhury menegaskan bahwa para pelaut terseret dalam situasi yang bukan tanggung jawab mereka. "Orang-orang seharusnya tidak menjadikan kapal sebagai korban. Ketika kapal dijadikan korban, para pelaut juga ikut menjadi korban—mereka adalah orang-orang yang tidak bersalah," ujarnya. Konflik ini diperkirakan akan berdampak jangka panjang terhadap perdagangan di Teluk Persia.
