Mudik Penuh Risiko dengan Mobil Bak Terbuka di Jalur Cianjur-Bandung
Mudik Lebaran 2026 masih menyisakan praktik berbahaya di jalur lintas Cianjur-Bandung, di mana banyak pemudik lokal menggunakan mobil bak terbuka untuk bepergian. Kondisi ini terpantau pada H+1 Lebaran, dengan kendaraan tersebut mendominasi arus lalu lintas di kawasan tersebut.
Kondisi Perjalanan yang Tidak Nyaman
Di dalam bak mobil, para penumpang harus bertahan dalam situasi yang beragam. Beberapa mobil dilengkapi dengan alas seperti tikar atau kasur lantai, sementara lainnya sama sekali tidak memiliki alas. Meski harus menghadapi terik matahari dan terpaan angin selama perjalanan, para pemudik terlihat tetap menikmati momen mudik ini. Mereka juga dituntut untuk bersabar menghadapi kepadatan lalu lintas yang kerap terjadi di jalan tersebut.
Kisah Ukar dan Keluarga Besar
Ukar (57), seorang pemudik asal Ciranjang, berbagi pengalamannya. Ia bersama keluarga besarnya menggunakan mobil bak terbuka miliknya untuk bersilaturahmi ke rumah saudaranya di Tagog Apu, Padalarang. "Ini sehari-hari mobil digunakan untuk sayur, kalau lebaran suka digunakan untuk silaturahmi ke rumah keluarga istri di Tagog Apu," kata Ukar saat dijumpai di salah satu minimarket di kawasan Rajamandala, Bandung Barat.
Alasan Penggunaan Mobil Bak Terbuka
Ukar mengungkapkan bahwa ia terpaksa menggunakan mobil bak terbukanya untuk mudik karena tidak memiliki mobil tertutup seperti minibus. Menurutnya, jarak mudik yang dekat tidak menjadi masalah untuk menggunakan kendaraan itu. Dengan mobil bak terbuka, keluarganya yang berjumlah 15 orang dapat terangkut semua, sementara ongkos perjalanan menghabiskan kurang dari Rp 100 ribu.
"Pakai ini sekeluarga masuk, kalau seperti pakai mobil kijang atau carry, harus dua mobil," tuturnya. "Bensin tidak sampai Rp 100 ribu, kalau punya uang lebih lumayan buat ngopi atau makan siang," lanjut Ukar, menekankan efisiensi biaya yang menjadi pertimbangan utama.
Risiko dan Realitas Mudik Lokal
Praktik ini menyoroti risiko keselamatan yang dihadapi para pemudik, terutama dalam cuaca ekstrem dan kondisi jalan yang padat. Meski berbahaya, banyak warga lokal memilih cara ini karena alasan ekonomis dan kepraktisan. Fenomena ini menjadi catatan penting bagi otoritas terkait untuk meningkatkan kesadaran akan keselamatan transportasi selama musim mudik.



