Warga Muhammadiyah Korban Banjir Bandang Tapsel Shalat Tarawih di Masjid Rusak
Tarawih di Masjid Rusak, Warga Korban Banjir Tapsel Tetap Ibadah

Warga Muhammadiyah Korban Banjir Bandang Tapsel Shalat Tarawih di Masjid Rusak

Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Di tengah penentuan itu, warga Muhammadiyah di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yang menjadi korban bencana banjir bandang, melaksanakan shalat tarawih perdana di masjid setempat yang masih dalam kondisi rusak.

Dilansir dari Antara, Selasa (17/2/2026), sejumlah warga yang rumahnya masih dapat ditinggali melakukan shalat tarawih berjamaah dengan fasilitas seadanya. Mereka memanfaatkan Masjid Taqwa Desa Garoga yang kondisinya belum pulih sepenuhnya setelah diterjang banjir bandang pada November 2025 lalu.

Kondisi Pengungsian dan Permukiman yang Memprihatinkan

Mayoritas warga Desa Garoga saat ini mengungsi ke tempat pengungsian yang berada di Desa Batu Hula, karena rumah mereka hancur akibat bencana tersebut. Kondisi permukiman di desa itu hampir seluruhnya rata dengan tanah, dengan hanya beberapa rumah yang masih berdiri namun dalam keadaan rusak dan masih ditempati oleh warga.

Meskipun menghadapi situasi yang sulit, semangat beribadah warga tidak surut. Mereka tetap berkumpul untuk melaksanakan shalat tarawih perdana, menunjukkan keteguhan dalam menjalankan kewajiban agama di bulan suci Ramadan.

Perbedaan Kondisi dengan Desa Tetangga

Selain di Desa Garoga, warga Muhammadiyah di Desa Huta Godang, Kecamatan Batang Toru yang sama, juga menggelar shalat tarawih berjamaah pertama. Namun, kondisi masjid di daerah tersebut relatif lebih baik berkat upaya perbaikan yang telah dilakukan.

Sebelumnya, sejumlah personel TNI bersama warga setempat telah memperbaiki dan membersihkan masjid di Desa Huta Godang untuk menyambut ibadah Ramadan, termasuk shalat tarawih. Prajurit Dua (Prada) Akbar Maulana menjelaskan bahwa perbaikan Masjid Taqwa Muhammadiyah di desa itu melibatkan 10 anggota TNI dan masyarakat lokal.

"Perbaikan yang kami lakukan ini untuk menyambut Ramadan supaya masyarakat nyaman ketika ingin beribadah," kata Akbar Maulana di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Selasa. Ia menambahkan bahwa perbaikan terus dilakukan agar warga yang akan melaksanakan shalat tarawih pada bulan Ramadan tahun ini dapat merasa nyaman dan khusyuk.

Perbedaan kondisi antara dua desa ini menyoroti dampak beragam dari bencana banjir bandang serta respons pemulihan yang berbeda-beda. Di satu sisi, warga Garoga harus beribadah di tengah kerusakan, sementara di Huta Godang, upaya kolaborasi telah membawa perbaikan signifikan.

Kejadian ini juga mengingatkan pentingnya solidaritas dan dukungan bagi korban bencana, terutama dalam menjaga spiritualitas di bulan Ramadan. Warga Muhammadiyah di Tapanuli Selatan menunjukkan bahwa meski dihadapkan pada tantangan besar, komitmen untuk beribadah tetap menjadi prioritas utama.