Israel Larang Imam Masjid Al-Aqsa Masuk Kompleks Ibadah Selama Seminggu
Otoritas Israel telah mengeluarkan larangan masuk bagi Imam Masjid Al-Aqsa, Sheikh Muhammad Ali Al-Abbasi, ke kompleks masjid suci tersebut selama satu pekan penuh. Larangan ini mulai berlaku sejak Senin lalu dan berpotensi diperpanjang, menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan umat Muslim.
Larangan Tanpa Alasan Jelas
Sheikh Abbasi mengungkapkan kepada kantor berita AFP bahwa dirinya tidak diberitahu mengenai alasan spesifik di balik keputusan pelarangan tersebut. "Saya telah dilarang masuk masjid selama seminggu, dan perintah itu dapat diperpanjang," ujarnya dengan nada prihatin. Situasi ini semakin memilukan mengingat Abbasi baru saja kembali ke Al-Aqsa sebulan yang lalu setelah menjalani perawatan intensif selama satu tahun akibat kecelakaan mobil serius.
"Larangan ini adalah masalah serius bagi kami, karena jiwa kami terikat pada Al-Aqsa. Al-Aqsa adalah hidup kami," tegas Sheikh Abbasi, menekankan ikatan spiritual yang mendalam dengan tempat ibadah tersebut.
Konteks Eskalasi di Yerusalem
Langkah pelarangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki Israel. Menurut laporan dari Anadolu Agency, penahanan dan pelarangan terhadap Sheikh Abbasi dilakukan hanya beberapa hari sebelum dimulainya bulan suci Ramadan, periode yang sangat sensitif secara religius dan politik.
Pemerintah Provinsi Yerusalem telah mengkonfirmasi bahwa Sheikh Muhammad Ali Abbasi ditahan oleh pasukan Israel sebelum kemudian dilarang memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa. Namun, pernyataan resmi dari pihak otoritas tidak menyertakan penjelasan mengenai dasar hukum atau alasan konkret di balik tindakan tersebut.
Dampak dan Reaksi
Pelarangan ini bukan hanya membatasi akses seorang imam terkemuka, tetapi juga dipandang sebagai bagian dari pola eskalasi yang lebih luas. Komunitas Muslim setempat mengkhawatirkan bahwa tindakan semacam ini dapat mengganggu ketenangan ibadah, terutama menjelang Ramadan yang akan segera tiba.
Insiden ini menyoroti kembali kompleksitas status Yerusalem dan situs-situs suci di dalamnya, di mana klaim historis, religius, dan politik sering kali berbenturan. Larangan terhadap Sheikh Abbasi menambah daftar panjang ketegangan antara otoritas Israel dan warga Palestina di sekitar Masjid Al-Aqsa.