Wamenag Imbau Masyarakat Hormati Perbedaan Saat Ramadan, Tolak Sweeping Warung
Wamenag Imbau Hormati Perbedaan Saat Ramadan, Tolak Sweeping

Wamenag Serukan Sikap Toleransi dan Penghormatan Selama Bulan Ramadan

Jakarta - Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi'i secara tegas mengimbau seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk menjaga sikap saling menghormati dan toleransi selama bulan Ramadan tahun 2026. Dalam pernyataannya, dia menekankan pentingnya menghindari praktik sweeping atau penutupan paksa warung makan yang beroperasi di siang hari.

Penolakan Terhadap Aksi Sweeping Warung Makan

"Tidak ada, tidak perlu ada sweeping-sweeping lah. Itu merupakan bentuk penghormatan kita, selain bagi yang menjalankan ibadah puasa, masih ada saudara kita yang tidak berpuasa," tegas Syafi'i usai mengikuti sidang isbat penetapan awal Ramadan 1447 H di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada Selasa (17/2/2026).

Dia menjelaskan bahwa sikap saling menghormati harus datang dari kedua belah pihak, baik yang berpuasa maupun yang tidak. Umat muslim yang sedang berpuasa diminta untuk memahami dan memaklumi jika menemukan orang lain yang makan atau minum di warung maupun restoran pada siang hari.

Fasilitas bagi yang Tidak Berpuasa Tetap Diperlukan

Syafi'i mengungkapkan bahwa tidak semua orang menjalankan ibadah puasa, sehingga keberadaan fasilitas makan yang tetap buka sangat penting. "Kita yang berpuasa harus menyadari, ternyata tidak semua orang berpuasa. Oleh karena itu, masih memungkinkan ada fasilitas-fasilitas yang terus dapat dinikmati oleh mereka yang tidak berpuasa," ujarnya.

Dia merasa bahwa akan timbul ketidakadilan jika orang yang tidak berpuasa kemudian kesulitan mencari makanan karena warung dan restoran dipaksa tutup. Dalam konteks ini, dia menegaskan bahwa tidak perlu memaksa semua orang untuk melakukan hal yang sama.

Membangun Kebersamaan dan Kekompakan Nasional

"Tidak mungkin hanya karena kita berpuasa, maka semua orang harus merasakan puasa," kata Syafi'i. Dia menambahkan, "Dalam artian, mereka yang tidak berpuasa karena perbedaan keyakinan, tidak harus sampai tidak bisa makan, minum, dan sebagainya. Namun, perlu dipertimbangkan koridor-koridor untuk membangun kebersamaan, kekompakan, dan saling menghormati, agar persatuan kita tidak terganggu oleh perbedaan-perbedaan."

Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama, terutama di bulan suci Ramadan. Syafi'i berharap imbauannya dapat diresapi oleh seluruh masyarakat, sehingga tercipta lingkungan yang harmonis dan saling menghargai.