Khatib Isa Al-Masih Putra Muhammadiyah Viral, Ini Alasan Nama Uniknya
Khatib Isa Al-Masih Putra Muhammadiyah Viral, Ini Alasannya

Khatib Isa Al-Masih Putra Muhammadiyah Viral, Ini Cerita di Balik Namanya

Seorang khatib salat Idul Fitri di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Pria tersebut bernama Isa Al-Masih Putra Muhammadiyah, sebuah nama yang menarik perhatian publik karena keunikannya.

Viral di Media Sosial

Nama Isa Al-Masih Putra Muhammadiyah pertama kali muncul dalam postingan akun X @MuhammadiyinGL pada Kamis, 19 Maret 2026. Postingan tersebut menampilkan gambar berisi tulisan nama lengkap sang khatib yang bertugas di Masjid Al Muta'allimin Perguruan Muhammadiyah, yang berlokasi di Jalan Veteran I Nomor 15, Gang Anggrek, Kelurahan Mangundikaran, Kecamatan Nganjuk.

Dalam waktu singkat, nama tersebut menyebar luas dan memicu berbagai reaksi dari netizen. Banyak yang penasaran dengan latar belakang pemberian nama yang tidak biasa ini, terutama karena menggabungkan nama nabi dalam agama Kristen dengan identitas organisasi Islam Muhammadiyah.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Penjelasan dari Sang Ayah

Fatah Al Basid, ayah dari Isa Al-Masih Putra Muhammadiyah, akhirnya angkat bicara untuk menjelaskan cerita di balik nama anaknya. Dalam wawancara dengan detikJatim pada Jumat, 20 Maret 2026, Basid mengungkapkan bahwa dialah yang memberikan nama tersebut kepada putranya.

"Saya yang memberi nama Isa Al Masih. Nama nabi yang sebenarnya jarang atau tidak pernah dijadikan nama anak oleh umat Muslim," kata Basid dengan tegas.

Menurutnya, pilihan nama Isa Al-Masih memang disengaja dan memiliki makna khusus. Namun, yang membuat nama ini semakin menarik adalah penambahan kata "Putra Muhammadiyah" di belakangnya.

Alasan Penambahan "Putra Muhammadiyah"

Basid menjelaskan bahwa penambahan frasa "Putra Muhammadiyah" bukanlah bagian dari nama asli yang diberikan sejak lahir. Frasa ini baru ditambahkan setelah Isa mengalami suatu kejadian penting saat masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Jadi namanya sering dikira orang nonmuslim. Makanya di belakang saya tambahkan Putra Muhammadiyah jadi jelas," ujar Basid, yang juga merupakan warga Muhammadiyah yang aktif.

Kejadian yang dimaksud adalah ketika Isa harus dirawat di rumah sakit. Saat itu, banyak orang yang mengira bahwa anaknya adalah nonmuslim karena nama Isa Al-Masih yang melekat padanya. Untuk menghindari kesalahpahaman lebih lanjut dan memperjelas identitas keislaman putranya, Basid memutuskan untuk menambahkan "Putra Muhammadiyah" sebagai penanda bahwa anaknya adalah muslim yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan Muhammadiyah.

Menjadi Khatib Salat Id

Meski memiliki nama yang unik dan sempat menimbulkan berbagai interpretasi, Isa Al-Masih Putra Muhammadiyah ternyata tumbuh menjadi pemuda yang aktif dalam kegiatan keagamaan. Terbukti, ia dipercaya menjadi khatib salat Idul Fitri di masjid milik Perguruan Muhammadiyah di Nganjuk.

Pengangkatan Isa sebagai khatib ini menunjukkan bahwa masyarakat sekitar dan jamaah masjid menerima sepenuhnya identitas dirinya. Kepercayaan ini juga membuktikan bahwa nama yang diberikan orang tua tidak mengurangi kemampuan dan kesalehan seseorang dalam menjalankan ibadah.

Kisah viralnya Isa Al-Masih Putra Muhammadiyah ini mengingatkan kita bahwa nama memang memiliki makna dan cerita di baliknya. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalani hidup dan kontribusinya kepada masyarakat, sebagaimana yang ditunjukkan oleh khatib muda dari Nganjuk ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga