Bermalam di Pura Saat Nyepi: Waktu Terbaik untuk Sembahyang
Di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan di Depok, terdapat sebuah ruang spiritual yang menjadi tempat bernaung bagi umat Hindu. Namanya Pura Tri Bhuana Agung. Menjelang Hari Raya Nyepi, suasana di pura ini menjadi lebih hidup dengan kedatangan umat yang silih berganti untuk mempersiapkan berbagai rangkaian ritual.
Persiapan Ritual Menyambut Tahun Baru Saka
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Jumat (13/03/2026) siang, kaum perempuan sibuk menata sesajen di selasar pura. Sajen tersebut terdiri dari unsur janur, buah, dan kue sebagai bagian persembahan. Sementara itu, sejumlah umat lainnya tampak berdiskusi mempersiapkan rangkaian upacara yang akan berlangsung hingga puncak hari hening atau Nyepi.
Kadek Budhi Aryawan, Humas Komunitas Banjar sekaligus pengelola Pura Tri Bhuana Agung Depok, menjelaskan bahwa bagi komunitas Banjar Suka Duka Hindu Dharma Kota Depok yang menaungi pura tersebut, Nyepi bukan hanya soal menjalankan kewajiban spiritual, tetapi juga tentang menjaga kebersamaan dan harmoni dengan lingkungan sekitar.
Filosofi dan Arsitektur Pura Tri Bhuana Agung
Nama Tri Bhuana Agung sendiri memiliki makna filosofis yang dalam dalam ajaran Hindu, yaitu tiga jalan menuju moksa atau pembebasan spiritual. Secara arsitektur, pura ini mengadopsi kearifan lokal Bali dengan tiga tingkatan bangunan. Bagian dasar melambangkan bumi, bagian tengah sebagai jalan menuju moksa, dan bagian tertinggi yang disebut Astana sebagai tempat bersemayamnya Sang Hyang Widhi Wasa.
Berbeda dari kebanyakan pura yang menggunakan konsep Tri Mandala, Pura Tri Bhuana Agung menggunakan konsep Eka Mandala karena keterbatasan lahan, dengan fokus pada ruang utama atau Utamaning Mandala.
Ritual Melasti dan Tradisi Makemit
Beberapa hari sebelum Nyepi, umat Hindu di Pura Tri Bhuana Agung menjalankan ritual Melasti, sebuah prosesi penyucian diri dan alam yang dilakukan di sumber air seperti laut. Setelah ritual Melasti selesai, para umat kemudian kembali ke pura untuk menjalankan tradisi Makemit, yakni bermalam di pura hingga menjelang Tawur Kesanga.
Kadek Budhi menjelaskan bahwa tradisi ini dijalankan secara bergiliran oleh anggota Banjar yang terbagi dalam beberapa wilayah kecil yang disebut Tempek. Sistemnya sederhana: setiap malam, perwakilan dari Tempek akan datang untuk menjaga pura dan mengikuti kegiatan spiritual hingga pagi hari.
Makna Simbolis Menjaga Energi Positif
Tradisi Makemit bukan sekadar bermalam di pura. Ritual ini memiliki makna simbolis yang dalam sebagai simbol turut menjaga air suci atau Tirta Kamandalu yang dibawa dari prosesi Melasti, yang dipercaya membawa energi positif. Penjagaan itu adalah simbol dari kewaspadaan akan gangguan negatif Butha Kala.
Dalam kepercayaan Hindu, manusia selalu hidup berdampingan dengan energi positif dan negatif. Melasti menjadi simbol pembersihan diri, sementara Makemit menjadi simbol menjaga kesucian hati. Prosesi ini berlangsung hingga menjelang Tawur Kesanga, sehari sebelum Nyepi, di mana umat melaksanakan upacara Mecaru sebagai bentuk penyeimbangan energi alam.
Nilai Spiritual Bermalam di Pura
Bagi umat yang mengikuti Makemit, malam di pura bukan sekadar waktu berjaga. Ada nilai spiritual yang lebih dalam yang ingin dibangun melalui tradisi tersebut. Kadek Budhi mengibaratkan bahwa energi Tuhan yang dihadirkan melalui benda-benda sakral yang disucikan dalam Melasti harus dijaga dengan baik.
Karena itu, umat biasanya memilih bermalam di pura sebagai bentuk penghormatan sekaligus menjaga kesucian energi spiritual yang diyakini sedang hadir. Momen tersebut juga dianggap sebagai waktu yang sangat baik untuk sembahyang, karena mereka yakin energi spiritual sedang berada sangat dekat dengan umat yang datang memuja.
Dengan demikian, tradisi Makemit di Pura Tri Bhuana Agung Depok tidak hanya memperkaya pengalaman spiritual umat Hindu, tetapi juga menjadi contoh bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat diintegrasikan dalam kehidupan perkotaan yang multikultural.



