Setiap tanggal 7 Juli, dunia memperingati Hari Cokelat Sedunia (World Chocolate Day). Di balik manisnya cokelat yang kini mudah ditemui, tersimpan sejarah panjang yang berakar dari peradaban kuno di Amerika Tengah. Jauh sebelum hadir dalam bentuk batangan atau permen, cokelat merupakan minuman pahit yang digunakan dalam upacara adat.
Asal-usul Cokelat: Suku Maya dan 'Makanan Para Dewa'
Sejarah cokelat dimulai dari peradaban Maya di Mesoamerika, yang kini meliputi sebagian Meksiko dan Amerika Tengah. Bangsa Maya diyakini sebagai yang pertama membudidayakan tanaman kakao. Mereka mengolah biji kakao menjadi minuman yang diseduh dengan air panas, yang disebut sebagai 'Makanan Para Dewa'.
"Cokelat terkenal karena rasanya yang lezat, dan sejarahnya bermula pada zaman kuno, ketika suku Maya menganggap cokelat (minuman kakao yang diseduh dengan air panas) sebagai 'Makanan Para Dewa'," tulis para peneliti dalam jurnal Chocolate, “Food of the Gods”: History, Science, and Human Health, dilansir dari National Library of Medicine, Selasa (7/7/2026).
Perubahan Bentuk: Dari Minuman Pahit ke Camilan Manis
Minuman cokelat asli suku Maya terasa pahit, berbeda dengan cokelat manis yang populer saat ini. Proses transformasi cokelat menjadi camilan manis terjadi setelah bangsa Eropa mengenal kakao dan menambahkan gula serta susu. Penemuan teknik pengolahan seperti conching dan tempering membuat cokelat lebih halus dan mudah dibentuk menjadi batangan atau permen.
Hari Cokelat Sedunia diperingati untuk merayakan sejarah panjang dan kenikmatan cokelat. Meski kini cokelat dinikmati dalam berbagai bentuk, asal-usulnya sebagai minuman upacara adat tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Mesoamerika.



