Menbud Fadli Zon Dorong Aset Budaya Jadi Living Heritage untuk Penguatan Ekonomi
Menbud Fadli Zon: Aset Budaya Harus Jadi Living Heritage

Menbud Fadli Zon Dorong Aset Budaya Jadi Living Heritage untuk Penguatan Ekonomi Nasional

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menegaskan bahwa aset budaya Indonesia harus menjadi living heritage atau warisan hidup, bukan sekadar monumen mati. Hal ini disampaikan dalam dialog dengan Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, di Wisma Danantara, Jakarta, pada Senin (23/2/2026). Pertemuan ini bertujuan untuk membahas kolaborasi strategis dalam mengoptimalkan aset budaya nasional agar memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

Fokus pada Dampak Ekonomi dan Sosial

Dalam keterangan tertulis pada Selasa (24/2/2026), Fadli Zon menjelaskan bahwa cagar budaya harus memberikan dampak ekonomi, sosial, dan kebudayaan secara berkelanjutan. "Kita ingin aset budaya kita menjadi living heritage, bukan sekadar dead monument. Cagar budaya harus memberi dampak ekonomi, sosial, dan kebudayaan secara berkelanjutan," ujarnya. Ia menekankan bahwa pengelolaan aset budaya perlu diarahkan untuk memperkuat ekonomi kreatif dan industri budaya, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh negara dan masyarakat luas.

Kolaborasi dengan Danantara untuk Destinasi Budaya

Dialog ini membahas rencana perluasan kolaborasi setelah penandatanganan kerja sama terkait pengelolaan kawasan Borobudur. Fadli Zon menyebut bahwa kolaborasi berikutnya diharapkan dapat diperluas ke destinasi budaya lain seperti Prambanan, Ratu Boko, dan Candi Plaosan, yang baru saja rampung perbaikan sarana-prasarana. "Peningkatan fasilitas umum di kawasan cagar budaya perlu diikuti penguatan tata kelola dan daya tarik destinasi melalui sinergi dengan InJourney serta entitas di bawah Danantara," jelasnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dony Oskaria, COO Danantara, menegaskan komitmennya untuk mendukung optimalisasi aset budaya sebagai pengungkit ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Ia menekankan pentingnya pengelolaan terpadu untuk meningkatkan daya tarik dan jumlah kunjungan, termasuk penguatan konektivitas penerbangan menuju Yogyakarta dan destinasi terkait. "Borobudur dan destinasi lain harus kita manfaatkan maksimal untuk Indonesia. Optimalisasi aset ini pada akhirnya untuk negara dan masyarakat," tegas Dony.

Partisipasi di Venice Biennale 2026

Selain pengelolaan cagar budaya, Fadli Zon juga menyoroti dukungan untuk partisipasi Indonesia pada Venice Biennale 2026. Ia menyebut bahwa 2026 menjadi momentum rintisan bagi Indonesia untuk kembali hadir di ajang internasional tersebut, dengan memanfaatkan ruang pamer di sekolah grafis di Venesia, Italia. "Venice Biennale adalah etalase dunia. Semua negara memiliki paviliun. Indonesia harus hadir. Ini bukan sekadar pameran, tetapi bagian dari cultural economy karena terjadi banyak transaksi keuangan dan eksposur internasional," katanya.

Fadli menjelaskan bahwa tahap awal akan mengirim tujuh seniman untuk residensi sekitar dua bulan, serta tujuh seniman lain untuk kolaborasi lintas jejaring nasional. Pemerintah menargetkan dalam dua tahun Indonesia bisa memiliki paviliun sendiri di Venice Biennale. Dony Oskaria menyatakan dukungan Danantara terhadap partisipasi ini, dengan menekankan pentingnya parameter dan indikator terukur. "Kita perlu menetapkan KPI dan pesan strategis yang jelas dalam setiap partisipasi internasional. Jika dikemas dengan baik dan memiliki indikator keberhasilan yang terukur, dampaknya akan lebih kuat," ujar Dony.

Penguatan Ekosistem Perfilman dan Museum

Pembahasan dalam dialog juga mencakup penguatan ekosistem perfilman nasional. Meski penonton film Indonesia terus meningkat, ketersediaan layar bioskop di daerah dinilai masih minim. Saat ini Indonesia memiliki sekitar 2.500 layar, sementara kebutuhan ideal diperkirakan mencapai 10.000 layar. Fadli Zon membuka peluang kolaborasi dengan PFN dan entitas terkait untuk pengembangan bioskop di kabupaten/kota guna memperluas akses dan memperkuat industri film.

Selain itu, Fadli mengusulkan optimalisasi Museum Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol, Jakarta, dengan memanfaatkan kembali gedung eks Jiwasraya di bagian belakang kompleks museum. Hal ini bertujuan untuk memperluas fungsi dan memperkuat narasi sejarah kebangsaan. Dony Oskaria menyatakan kesiapan Danantara untuk mendukung koordinasi teknis terkait pengembangan museum tersebut.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Langkah Awal Sinergi Lintas Sektor

Pertemuan ini disebut menjadi langkah awal penguatan sinergi antara Kementerian Kebudayaan dan Danantara dalam mendorong kebudayaan sebagai pilar ekonomi masa depan. Kolaborasi lintas sektor diharapkan tidak hanya menjaga kelestarian warisan budaya, tetapi juga memperkuat kontribusinya terhadap ekonomi nasional dan posisi Indonesia di kancah global.

Sebagai informasi, pertemuan turut dihadiri oleh Wamenbud Giring Ganesha Djumaryo, Dirjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retno Astuti, Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Dirjen Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra, Managing Director (Holding Operasional Danantara) Febriany Eddy, serta jajaran Danantara. Dialog ini menandai komitmen bersama untuk mengubah aset budaya menjadi kekuatan ekonomi yang hidup dan berkelanjutan bagi Indonesia.