Menbud Fadli Zon Buka Gelar Budaya UNS, Tekankan Digitalisasi Budaya Nusantara
Menbud Buka Gelar Budaya UNS, Soroti Digitalisasi Budaya

Menbud Fadli Zon Buka Gelar Budaya UNS, Soroti Pentingnya Digitalisasi Budaya

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, secara resmi membuka Gelar Budaya dan Karya Anak Bangsa yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS). Acara ini berlangsung di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram dan menjadi puncak dari rangkaian reuni akbar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS, dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-50 universitas tersebut. Tema yang diangkat adalah 'Merajut Pelangi Budaya Nusantara', mencerminkan komitmen untuk merawat dan mengembangkan kekayaan budaya Indonesia.

Ragam Kegiatan Kebudayaan yang Memukau

Gelar Budaya ini menampilkan berbagai aktivitas kebudayaan yang kaya dan beragam. Mulai dari pertunjukan wayang beber tani yang memikat, pameran arsip, keris, naskah kuno, dan koleksi museum yang bernilai sejarah tinggi. Tidak ketinggalan, gelar seni budaya mahasiswa FIB, serta pameran UMKM dari alumni dan Wirausaha Baru Mahasiswa (WIBAWA) turut memeriahkan acara. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang temu yang hangat bagi akademisi, alumni, pelaku budaya, dan masyarakat luas.

Orasi Kebudayaan: Budaya sebagai Kekuatan Strategis

Dalam sambutannya, Menbud Fadli Zon menyampaikan orasi kebudayaan yang menekankan peran budaya sebagai kekuatan strategis bangsa. Ia mengingatkan bahwa pemajuan kebudayaan merupakan amanat konstitusi yang harus diwujudkan bersama-sama. "Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia, dengan menjamin masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya," ujar Fadli dalam keterangan tertulis pada Kamis, 26 Maret 2026.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Fadli menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar atau megadiversity, mencakup ribuan etnis, ratusan bahasa daerah, serta beragam ekspresi budaya seperti tradisi lisan, manuskrip, ritus, pengetahuan tradisional, dan kuliner. Seluruh kekayaan ini harus dipandang sebagai aset strategis di tengah dinamika global yang terus berubah.

Digitalisasi Budaya: Bukan Sekadar Dokumentasi

Dalam konteks globalisasi dan transformasi digital, Fadli menekankan bahwa budaya harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan akar tradisinya. Ia menyoroti bahwa digitalisasi budaya bukan hanya tentang dokumentasi semata, melainkan upaya untuk menghidupkan kembali warisan budaya agar tetap relevan. Digitalisasi juga berperan dalam memperluas akses masyarakat terhadap budaya dan memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.

Fadli menguraikan tiga hal penting dalam pengembangan budaya di era digital:

  1. Literasi budaya digital: Tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga pemahaman konteks, etika, dan hak cipta dalam ruang digital.
  2. Pelindungan bagi pelaku budaya: Memastikan mereka mendapat akses yang adil terhadap promosi, monetisasi, dan pengembangan kapasitas dalam ekosistem ekonomi digital.
  3. Penguatan arsip dan pangkalan data budaya: Menyimpan informasi sekaligus konteks dan makna budaya secara utuh untuk generasi mendatang.

Kolaborasi sebagai Kunci Inovasi Kebudayaan

Menbud juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas, dan pemerintah sebagai motor inovasi kebudayaan. Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam pengembangan kebudayaan berbasis riset dan teknologi. Diplomasi budaya perlu diperkuat melalui narasi yang berakar dan mampu menjangkau budaya populer serta ruang digital.

"Karena itu, tugas kita bukan memilih antara tradisi dan digital, tetapi membuat digital beradab untuk tradisi, serta menjadikan teknologi sebagai ruang pendidikan, gotong royong, dan perlindungan budaya," tegas Fadli dalam pidatonya.

Dukungan dari Pimpinan UNS

Rektor UNS, Hartono, dalam kesempatan yang sama menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen kampus untuk menjadikan budaya sebagai fondasi pendidikan. Ia menjelaskan bahwa budaya tidak hanya hadir dalam bentuk artefak atau seni, tetapi juga menjadi dasar pembentukan karakter dan peradaban manusia.

"Budaya adalah napas kehidupan bangsa. Karena itu pendidikan dan kebudayaan harus berjalan beriringan agar mampu membentuk manusia yang berkarakter dan adaptif terhadap perubahan zaman," ujar Hartono.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Sementara itu, Dekan FIB UNS, Dwi Susanto, menambahkan bahwa acara ini dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas generasi yang mempertemukan kampus, alumni, komunitas, dan masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya sekadar pertunjukan, tetapi juga berfungsi sebagai ruang literasi, edukasi, dan jejaring yang memperkuat ekosistem kebudayaan.

Penutup dan Simbolis Pembukaan

Sebagai penanda pembukaan acara, Menbud Fadli Zon bersama pimpinan UNS dan para tokoh yang hadir secara simbolis memukul gong. Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk anggota Komisi III DPR RI Muhammad Toha, Kepala ANRI Mego Pinandito, jajaran pimpinan UNS, tokoh budaya, alumni lintas angkatan, mahasiswa, dan masyarakat umum. Turut mendampingi Menteri Kebudayaan, antara lain Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, serta staf khusus dan direktur terkait.

Menutup sambutannya, Fadli mengajak seluruh elemen, termasuk perguruan tinggi, untuk terus menumbuhkan kesadaran budaya sebagai fondasi pembangunan bangsa. "Kemajuan kebudayaan hanya bisa kita capai jika kita bekerja bersama, dengan kesadaran bahwa budaya adalah kekuatan dan modal utama bangsa ke depan," imbuhnya.