Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pernah dengan tegas menyatakan tempat kelahirannya. "Saya dilahirkan di Surabaya, jadi saya arek Suroboyo," ucapnya saat menjelaskan tentang tempat kelahirannya. Proklamator kemerdekaan Indonesia itu lahir pada 6 Juni 1901 di sebuah rumah sederhana tanpa halaman yang terletak di Gang Pandean IV Nomor 40, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur.
Pengaburan Sejarah oleh Orde Baru
Namun, selama bertahun-tahun, rezim Orde Baru yang berkuasa setelah Soekarno jatuh, mempublikasikan tempat kelahiran Bung Besar sebagai Blitar. Hal ini diungkapkan oleh sejarawan Peter Kasenda dalam wawancara dengan Kompas.com pada 6 Juni 2022. Menurut Peter, Orde Baru sengaja mengaburkan sejarah Soekarno demi kepentingan politik.
Pengaburan ini diduga dilakukan untuk mengurangi pengaruh Soekarno di mata publik, terutama di Surabaya yang dikenal sebagai kota perjuangan. Dengan mengalihkan tempat kelahiran ke Blitar, Orde Baru berusaha memutus hubungan emosional antara Soekarno dan arek Suroboyo.
Fakta Sejarah yang Tak Terbantahkan
Meskipun demikian, fakta sejarah mencatat bahwa Soekarno benar-benar lahir di Surabaya. Rumah kelahirannya kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan menjadi saksi bisu perjalanan hidup sang proklamator. Masyarakat Surabaya pun bangga memiliki putra daerah yang menjadi founding father bangsa Indonesia.
Pengakuan Soekarno sendiri menjadi bukti kuat bahwa ia adalah arek Suroboyo sejati. Pernyataan tersebut tercatat dalam berbagai dokumen sejarah dan diakui oleh para sejarawan.
Dampak Politik Pengaburan Sejarah
Tindakan Orde Baru mengaburkan tempat lahir Soekarno merupakan bagian dari upaya lebih besar untuk mendekonstruksi citra Soekarno sebagai tokoh sentral kemerdekaan. Dengan mengubah narasi sejarah, rezim Orde Baru ingin memperkuat legitimasi kekuasaannya sendiri.
Namun, seiring berjalannya waktu, kebenaran sejarah mulai terungkap. Kini, masyarakat Indonesia semakin sadar akan pentingnya menjaga fakta sejarah tanpa distorsi politik. Surabaya pun kembali diakui sebagai kota kelahiran sang proklamator.



