Warga Agam Rela Lewati Material Banjir Bandang demi Silaturahmi Lebaran
Warga Agam Lewati Material Banjir demi Silaturahmi Lebaran

Warga Agam Rela Hadapi Rintangan Material Banjir demi Tradisi Silaturahmi Lebaran

Di tengah suasana Idul Fitri 2026, sejumlah warga di Nagari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, harus menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga. Mereka terpaksa berjalan kaki melintasi ruas jalan yang masih dipenuhi tumpukan batu dan material sisa banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025.

Perjalanan Penuh Tantangan Menuju Kediaman Kerabat

Warnida, salah satu warga yang mengalami langsung kesulitan ini, mengungkapkan bahwa ia bersama keluarga memilih jalur alternatif berupa jalan kecil yang dipenuhi bebatuan di kedua sisinya. "Rencana mau ke rumah keluarga. Bagaimana pun dalam keadaan seperti ini, kami tetap melihat sanak saudara, meski suasana sedikit kurang semangat karena keadaan kayak gini," ujarnya dengan harapan agar kondisi dapat pulih seperti sedia kala.

Namun, perjalanan mereka tidak berjalan mulus. Di tengah jalan, mereka harus berbalik arah karena menghadapi genangan air yang cukup dalam dan memanjang. Situasi ini diperparah dengan terputusnya jembatan kecil di sekitar lokasi rumahnya, yang membuat akses menjadi lebih menantang. Dalam kondisi tersebut, anak Warnida harus menggendong bayi, sehingga mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke jalur utama meskipun waktu tempuh menjadi lebih lama.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Tradisi Tetap Berjalan di Tengah Pemulihan Pasca Bencana

Meski menghadapi berbagai rintangan, semangat untuk menjaga tradisi silaturahim tidak surut. Tidak jauh dari aliran sungai yang dipenuhi material batuan besar akibat bencana hidrometeorologi, terlihat dua perempuan muda dengan penuh perjuangan menggendong anak balita mereka. Mereka melintasi jembatan kayu sederhana dan menyusuri tepian sungai untuk mencapai rumah kerabat.

Sementara itu, di lokasi yang sama, sejumlah anak usia sekolah dasar tetap menjalankan tradisi lokal yang dikenal sebagai 'manambang'. Mereka berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengumpulkan Tabungan Hari Raya (THR) dalam bentuk uang kertas baru, menyimpan uang pecahan tersebut ke dalam tas dan saku mereka. Kegiatan ini menunjukkan bahwa meski bencana telah mengubah lanskap fisik, nilai-nilai kebersamaan dan kegembiraan hari raya tetap hidup di hati masyarakat.

Keteguhan di Tengah Ujian Alam

Kejadian ini menggarisbawahi ketangguhan warga Agam dalam menghadapi dampak banjir bandang yang masih terasa. Ruas jalan yang mereka lalui, yang berada dekat dengan aliran sungai penuh material batuan besar, menjadi saksi bisu perjuangan mereka untuk mempertahankan ikatan keluarga dan tradisi Lebaran. Meski suasana mungkin kurang semangat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tekad untuk bersilaturahmi tidak pernah padam.

Pemulihan pascabencana memang masih berlangsung, namun semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap tradisi tetap menjadi prioritas. "Semoga bisa seperti yang dulu-dulu lagi," harap Warnida, mewakili aspirasi banyak warga yang berharap normalitas segera kembali ke Nagari Maninjau.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga