Waka MPR: Mudik Lebaran Momentum Strategis Lestarikan Persatuan & Toleransi
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa tradisi mudik Lebaran bukan sekadar aktivitas pulang kampung biasa. Menurutnya, momen tahunan ini harus dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk melestarikan nilai-nilai persatuan dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Momentum Pertemuan dengan Keberagaman
"Mudik bukan sekadar pulang kampung. Ini adalah momentum strategis untuk memupuk persatuan dan toleransi, terutama ketika para perantau bertemu kembali dengan keberagaman di daerah asal," ujar Rerie dalam keterangan resminya, Selasa (17/3/2026).
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem ini menjelaskan bahwa perjalanan mudik memberikan kesempatan unik bagi para perantau untuk kembali berinteraksi dengan akar budaya dan keberagaman di daerah asal mereka. "Di jalan raya, kita bertemu dengan sesama pemudik dari berbagai latar belakang. Di kampung halaman, kita kembali menyatu dengan akar budaya. Toleransi dan persatuan harus dipraktikkan, bukan sekadar wacana," tegasnya.
Data Pergerakan Pemudik yang Masif
Pernyataan Rerie ini disampaikan di tengah prediksi pemerintah mengenai besarnya arus mudik tahun ini. Berdasarkan data resmi, diperkirakan terdapat 155 juta pergerakan pemudik selama periode mudik Lebaran. Puncak arus mudik diprediksi terjadi pada 18 Maret 2026, dengan mencapai 21,97 juta pergerakan dalam satu hari saja.
Data Kementerian Perhubungan mengungkapkan rincian moda transportasi yang digunakan pemudik:
- 76,24 juta orang akan menggunakan mobil pribadi
- 50,63 juta di antaranya melintasi jalan tol
- Di sejumlah wilayah seperti DIY, kendaraan roda dua masih mendominasi dengan 129.194 sepeda motor yang tercatat memasuki wilayah tersebut pada awal arus mudik
Refleksi Nilai Toleransi dan Kekeluargaan
Rerie juga menyoroti berbagai inisiatif Program Mudik Gratis yang dijalankan oleh pihak swasta maupun pemerintah. Menurutnya, program-program tersebut merefleksikan nilai-nilai toleransi dan kekeluargaan antarsesama anak bangsa yang patut diapresiasi dan dilestarikan.
"Di tengah tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini, semangat kebersamaan dan toleransi sangat dibutuhkan untuk memperkuat ikatan sosial antarsesama anak bangsa," tambah Rerie.
Warisan untuk Generasi Penerus
Wakil Ketua MPR ini berharap agar generasi penerus dapat secara konsisten mengamalkan dan melestarikan nilai-nilai kebangsaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai kebangsaan harus mampu dimanfaatkan sebagai landasan bertindak dalam menjawab berbagai tantangan demi mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik di masa depan.
Rerie mengingatkan para pemudik untuk menjadikan perjalanan ke kampung halaman sebagai sarana untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan. "Perjalanan mudik ini seharusnya tidak hanya tentang mencapai tujuan fisik, tetapi juga tentang memperkuat ikatan sosial dan memahami kembali makna persatuan dalam keberagaman," pungkasnya.
