Sinta Nuriyah Wahid, istri Presiden ke-4 Republik Indonesia Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, menggelar acara halalbihalal bersama sejumlah aktivis perempuan di kediamannya yang berlokasi di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan. Dalam pertemuan yang berlangsung pada Kamis, 2 April 2026 tersebut, Sinta Wahid menyampaikan pandangan mendalam mengenai pentingnya merawat dan menjaga semangat kebangsaan Indonesia.
Silaturahmi sebagai Fondasi Sosial yang Sehat
Awal pembicaraannya, Sinta Wahid menekankan arti penting menjalin dan menjaga silaturahmi di antara sesama. Menurutnya, tanpa adanya silaturahmi, lingkungan sosial tidak akan menjadi sehat dan bahkan berpotensi mengganggu kondisi psikologis individu.
"Melalui silaturahmi, manusia dapat membangun relasi dengan sesama, menampilkan ekspresi diri, berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesama manusia. Apapun agamanya, apa pun status dan strata sosialnya, seseorang berhak melakukan dan menerima silaturahmi," ujar Sinta Wahid di hadapan para aktivis perempuan yang hadir.
Ia pun mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada semua tamu yang telah datang untuk bersilaturahmi. Sinta berharap pertemuan ini dapat memberikan manfaat nyata di dunia, sekaligus memperkuat ikatan persaudaraan.
Merawat Kebhinnekaan dan Ikrar Bangsa di Bulan Ramadan
Sinta Wahid menjelaskan bahwa selama bulan puasa atau Ramadan, selain mengajarkan makna dan hakikat puasa yang sebenarnya, ia juga aktif merawat Kebhinnekaan serta merawat ikrar para bangsa, khususnya anggota bangsa Indonesia.
"Semoga kita semua akan menjadi umat yang sabar, menjadi ibu-ibu teladan yang akan menjaga anak-anaknya. Karena saya, terus terang selama bulan puasa, selain mengajarkan tentang makna dan hakikat puasa, saya juga sekaligus merawat Kebhinnekaan dan juga merawat ikrar para bangsa agar mereka tetap terikat untuk menjaga bangsa dan negara, tetap terpaku di hati masing-masing," tuturnya dengan penuh semangat.
Lebih lanjut, Sinta Wahid menilai bahwa bulan Ramadan bukan hanya sekadar tentang agama, melainkan juga tentang negara dan bangsanya. Ia berharap dengan adanya ikrar yang kuat dari bangsa, terutama dari para ibu yang akan menjaga dan memberikan kedaulatan serta teladan kepada anak-anaknya, bangsa Indonesia dapat terus maju.
Negara sebagai Anak dan Peran Ibu sebagai Pembimbing
Dalam penuturan yang menggugah, Sinta Wahid menyampaikan analogi yang kuat mengenai hubungan antara negara dan warganya.
"Mudah-mudahan dengan adanya ikrar yang kuat dari bangsa kita, apalagi ibu-ibu yang akan menjaga, yang akan memberikan kedaulatan dan tauladan kepada anak-anaknya. Karena, tanpa itu, negara siapa yang akan merawat negaranya kalau bukan kita sendiri," jelasnya.
Ia kemudian melanjutkan dengan pernyataan yang lebih dalam: "Negara itu adalah anak-anak kita sendiri, dan siapa yang akan membimbing mereka? Tidak lain adalah ibu-ibu perkasa, ibu-ibu yang hebat. Saya kira itu mohon maaf lahir dan batin."
Pernyataan ini menegaskan keyakinannya bahwa peran ibu sangat krusial dalam membimbing dan merawat negara, layaknya seorang ibu yang membimbing anaknya. Sinta Wahid percaya bahwa tanggung jawab tersebut harus diemban bersama, terutama oleh para perempuan, untuk memastikan bangsa Indonesia tetap kokoh dan bersatu.



