Penjaja Tikar di Sempur Bogor Raih Berkah Ekonomi dari Salat Idul Fitri
Penjaja Tikar di Sempur Bogor Raih Berkah dari Salat Id

Penjaja Tikar 'Kecipratan' Berkah Ekonomi di Tengah Kemeriahan Salat Idul Fitri di Bogor

Sementara ribuan jemaah berkumpul untuk melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 H di Lapangan Sempur, Kota Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (20/3/2026) pagi, seorang pria bernama Kang Fardi (35) hadir dengan peran yang berbeda. Bukan sebagai bagian dari jemaah, melainkan sebagai penjaja tikar yang memanfaatkan momen religius ini untuk mencari rezeki.

Ritual Tahunan Menjual Tikar di Tengah Kerumunan Jemaah

Sejak pagi hari sebelum salat dimulai, Fardi sudah berada di sekitar area lapangan. Dengan suara lantang, ia menawarkan tikarnya kepada para jemaah yang berdatangan. "Tikernya Rp 5 ribuan.. Rp 5 ribuan, buat salat," ucapnya berulang kali kepada setiap orang yang lewat.

Beberapa jemaah berhenti sejenak, merogoh dompet, dan menukarkan uang Rp5.000 dengan selembar tikar. Namun, tak sedikit pula yang langsung melanjutkan langkah tanpa menghiraukan tawarannya. Meski demikian, semangat Fardi tidak surut. Suaranya terus terdengar menawarkan barang dagangannya hampir tanpa jeda.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Iya, acara tahunan. Jadi setiap Idul Adha, Idul Fitri, momennya tahunan jualannya," kata Fardi menjelaskan rutinitasnya. Ia merupakan salah satu dari sejumlah penjual tikar yang tersebar di berbagai titik di Lapangan Sempur pagi itu.

Potensi Penjualan Mencapai 300 Tikar dalam Sehari

Menurut pengakuannya, Fardi bisa menjual tikarnya hingga 300 lembar dalam sehari, tergantung pada ramainya kerumunan jemaah. "Tergantung dari ramainya ya. Nggak bisa dipastiin sekian-sekian. Kadang-kadang bisa habis 300," tuturnya.

Bagi pria berusia 35 tahun ini, tikar bukan sekadar alas untuk salat, melainkan cara bertahan hidup. Sehari-hari, ia juga berjualan tikar di Kebun Raya Bogor kepada para wisatawan yang berkunjung. Namun, momen Salat Id seperti ini memberikan peluang ekonomi yang signifikan dalam waktu singkat.

Berkah Ganda: Rezeki dan Ibadah

Yang menarik, untuk keesokan harinya, Fardi memilih tidak berjualan tikar. Ia berencana melaksanakan Salat Idul Fitri sebagai jemaah biasa, sekaligus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mencari rezeki dengan cara yang sama seperti dirinya.

Fenomena penjaja tikar di lapangan salat ini menunjukkan bagaimana momen religius seperti Idul Fitri tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga dimensi ekonomi. Bagi masyarakat seperti Fardi, hari raya menjadi kesempatan untuk meningkatkan pendapatan sekaligus bagian dari tradisi tahunan yang telah mendarah daging.

Kehadiran para penjaja tikar ini juga memudahkan jemaah yang mungkin lupa membawa alas salat sendiri, menciptakan simbiosis mutualisme dalam kerangka ibadah dan ekonomi kerakyatan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga