Mitra MBG Viral Jelaskan Asal Usul Insentif Rp 6 Juta dan Minta Maaf ke Prabowo
Hendrik Irawan, seorang mitra program Makan Bergizi Gratis (MBG), akhirnya memberikan klarifikasi publik setelah video dirinya joget-joget di dapur MBG sambil memamerkan cuan menjadi viral di media sosial. Dalam unggahannya, pria yang memiliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut juga meminta maaf kepada Presiden Prabowo Subianto atas aksinya yang dianggap tidak pantas.
Klarifikasi Soal Insentif Rp 6 Juta
"Jadi hari ini saya menjelaskan insentif Rp 6 juta yang saya dapatkan itu darimana. Jangan sampai netizen blunder. Jadi itu insentif bukan diambil dari jatah anak-anak, itu dari insentif yang bapak presiden (Prabowo Subianto) berikan," kata Hendrik dalam pernyataannya yang dilansir dari detikJabar, Rabu (25/3/2026).
Ia menegaskan bahwa dana tersebut merupakan bentuk apresiasi dari pemerintah, bukan bagian dari anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk gizi anak-anak. Pernyataan ini disampaikan untuk mengklarifikasi kesalahpahaman yang beredar di kalangan netizen.
Modal Besar dan Kolaborasi dengan Pemerintah
Hendrik mengungkapkan bahwa ia telah mengeluarkan modal pribadi yang sangat besar untuk membangun SPPG di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Fasilitas tersebut berdiri di atas lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi.
"Kami membangun dapur ini pakai uang sendiri. Saya membangun SPPG ini tidak memakai uang pemerintah. Nah dari pemerintah berkolaborasi dengan mitra, uang itu hanya pengganti selama program berjalan. Bukan cuma-cuma, tapi saya mengeluarkan modal Rp 3,5 M untuk ikut program bapak Prabowo ini," jelasnya.
Ia menekankan bahwa partisipasinya dalam program MBG adalah bentuk kolaborasi, di mana pemerintah memberikan insentif sebagai kompensasi operasional, sementara ia menanggung biaya infrastruktur secara mandiri.
Belum Balik Modal dan Detail Pembayaran
Meskipun menerima insentif sebesar Rp 6 juta, Hendrik mengaku bahwa hingga saat ini ia belum balik modal dari investasi awalnya. Selain itu, ia juga meluruskan informasi mengenai frekuensi pembayaran.
"Jadi dari Pak Presiden Prabowo memberikan apresiasi, bahwa saya membangun dapur yang bagus. Jujur saja kami belum balik modal sampai sekarang. Lalu uang itu, bukan Rp6 juta dikali 30 hari, tapi dikalikan 24 hari," ungkapnya.
Artinya, insentif tersebut tidak dibayarkan setiap hari dalam sebulan, melainkan hanya untuk 24 hari kerja, yang menunjukkan bahwa total penerimaannya lebih rendah dari perkiraan awal yang beredar di publik.
Permintaan Maaf dan Dampak Viral
Aksi joget dan pamer cuan yang dilakukan Hendrik sebelumnya telah memicu berbagai reaksi dari masyarakat, termasuk kritik dan pertanyaan mengenai transparansi program MBG. Dengan klarifikasi ini, ia berharap dapat memulihkan kepercayaan dan menjelaskan bahwa insentif yang diterimanya adalah legal dan sesuai dengan mekanisme program.
Permintaan maafnya kepada Presiden Prabowo juga menjadi bagian dari upaya untuk menjaga hubungan baik dan etika dalam berkolaborasi dengan pemerintah. Insiden ini menyoroti pentingnya komunikasi yang jelas dalam program sosial agar tidak menimbulkan misinterpretasi di masyarakat.



