Cara Masjid Istiqlal Salurkan Daging Kurban Tanpa Antrean di Lokasi
Istiqlal Salurkan Daging Kurban Tanpa Antrean, Ini Caranya

Masjid Istiqlal Jakarta memastikan tidak akan membagikan daging kurban secara langsung kepada masyarakat umum di lokasi pada Idul Adha 1447 Hijriah. Sebagai gantinya, seluruh daging kurban akan disalurkan melalui jaringan masjid, musala, panti asuhan, majelis taklim, perguruan tinggi Islam, pondok pesantren, hingga madrasah yang berada di bawah binaan Masjid Istiqlal. Langkah ini diambil untuk menghindari penumpukan massa yang biasa terjadi saat pembagian daging kurban.

Penyembelihan Dimulai Kamis, 28 Mei 2026

Manajemen Masjid Istiqlal memulai penyembelihan hewan kurban pada Kamis, 28 Mei 2026. Pada tahap awal, panitia memprioritaskan pemotongan kambing dan domba. Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menjelaskan bahwa skema pembagian tahun ini diubah. Tidak ada lagi pembagian kupon atau distribusi daging secara langsung di area masjid kepada masyarakat umum.

“Kita akan mendistribusikan kepada masjid dan musala binaan Istiqlal. Panti asuhan, majelis taklim, perguruan tinggi Islam, pondok pesantren, hingga madrasah yang punya relasi dengan Istiqlal,” kata Nasaruddin Umar kepada wartawan di kawasan Masjid Istiqlal, Rabu (27/5/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Total 82 Ekor Hewan Kurban

Hingga hari H Idul Adha, panitia mencatat telah menerima total 82 ekor hewan kurban, terdiri dari 63 ekor sapi, 18 ekor kambing, dan satu ekor domba. Karena penyembelihan berlangsung selama hari tasyrik, Istiqlal masih membuka posko penerimaan hewan kurban dari masyarakat hingga Jumat (29/5/2026) mendatang.

Partisipasi Gereja Katedral dan Hotel Borobudur

Nasaruddin mengungkapkan hal menarik pada perayaan tahun ini. Sejumlah hewan kurban yang diterima Istiqlal juga berasal dari komunitas non-Muslim, salah satunya Gereja Katedral Jakarta. Selain itu, manajemen Hotel Borobudur menyumbangkan 25 ekor sapi. Menag meluruskan bahwa secara syariat Islam, pemberian dari non-Muslim tidak dikategorikan sebagai ibadah kurban karena syarat utamanya harus beragama Islam. Namun, pihak manajemen menyambut hangat sumbangan tersebut sebagai bentuk konkret solidaritas kemanusiaan.

“Bahkan separuh di antara hewan kurban yang kita sembelih di antara 60-an itu, berasal dari kawan-kawan kita dari masyarakat umum. Yang mungkin itu tidak dimaksudkan sebagai kurban, karena yang wajib untuk berkurban itu adalah orang Islam yang mampu,” jelasnya.

Bagi Nasaruddin, momentum Hari Raya Idul Adha harus dijadikan gerakan bersama untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat luas, tanpa memandang perbedaan latar belakang agama. “Apapun agamanya, kalau memang bisa ikut berbagi, bagaimana supaya masyarakat itu terbebas daripada krisis protein pada hari-hari Idul Kurban ini, itu sangat dianjurkan sekali,” pungkas Menag.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga