Video Gibran Bagikan Rp75 Juta Terbukti Hoaks, Hasil AI
Video Gibran Bagikan Rp75 Juta Terbukti Hoaks, Hasil AI

Tim Cek Fakta Kompas.com memastikan bahwa video yang memperlihatkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membagikan dana bantuan senilai Rp75 juta kepada masyarakat adalah hoaks. Video tersebut bukan rekaman asli, melainkan hasil manipulasi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Narasi dalam video itu mengklaim bahwa bantuan sebesar Rp75 juta diberikan kepada masyarakat sebagai modal usaha, untuk membayar utang, dan memenuhi keperluan rumah tangga lainnya. Salah satu unggahan yang memuat video tersebut dibagikan oleh sebuah akun di media sosial pada 22 Juni 2026. Unggahan ini diduga disebarkan dengan tujuan menyesatkan publik dan menarik perhatian banyak orang.

Dalam video yang beredar, Gibran tampak berbicara di hadapan kamera dengan gaya yang menyerupai pengumuman resmi. Hal ini membuat sebagian orang percaya bahwa informasi tersebut benar. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, video tersebut teridentifikasi sebagai konten yang sengaja direkayasa.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Unggahan tersebut telah dilihat oleh ribuan pengguna media sosial dan memicu beragam komentar. Sebagian warganet tampak percaya dengan informasi itu, sementara sebagian lainnya meragukan keaslian video. Namun, setelah penelusuran oleh Tim Cek Fakta Kompas.com, kebenarannya terungkap.

Hasil Penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com

Tim Cek Fakta Kompas.com melakukan penelusuran terhadap video yang sedang ramai dibicarakan tersebut. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa video itu terdeteksi sebagai konten hasil manipulasi AI. Wajah dan suara Gibran dalam video merupakan hasil perekayasaan digital sehingga tampak seolah-olah Wakil Presiden benar-benar mengumumkan program bantuan.

Tim peneliti menemukan sejumlah kejanggalan pada video tersebut, mulai dari ketidaksinkronan gerakan bibir dengan ucapan, hingga kualitas gambar yang tidak konsisten. Dengan menggunakan teknologi pendeteksi deepfake, tim dapat memastikan bahwa video ini bukan dokumentasi asli melainkan hasil sintesis digital. Oleh karena itu, informasi terkait pembagian dana bantuan Rp75 juta dari Gibran dipastikan tidak benar.

Modus Penipuan Mengatasnamakan Pejabat Publik

Praktik membuat video palsu menggunakan teknologi AI semakin marak belakangan ini. Pelaku biasanya menyasar tokoh-tokoh publik seperti pejabat pemerintah untuk memberikan kesan kredibilitas pada pesan palsu yang mereka sebarkan. Tujuannya beragam, mulai dari memperoleh data pribadi korban, menyebarkan tautan berbahaya, hingga melakukan penipuan finansial.

Tawaran bantuan sosial palsu seperti dalam video ini menjadi salah satu bentuk modus yang sering digunakan. Masyarakat yang tertarik dengan bantuan tersebut bisa diarahkan untuk mengisi formulir daring yang mencurigakan atau diminta membayar sejumlah uang sebagai biaya administrasi. Dalam praktik penipuan, uang yang telah dikirim biasanya tidak akan kembali.

Untuk itu, masyarakat diimbau untuk selalu melakukan verifikasi sebelum mempercayai atau membagikan informasi. Pastikan informasi berasal dari sumber resmi seperti kanal komunikasi pemerintah, situs web resmi, atau media terverifikasi. Jangan mudah tergiur dengan iming-iming bantuan yang tidak jelas prosedurnya.

Ciri-Ciri Video Hoaks AI

Mengenali video hoaks berbasis AI sebenarnya bisa dilakukan dengan beberapa cara. Salah satunya dengan memperhatikan gerakan bibir saat berbicara. Dalam banyak deepfake, gerakan bibir sering tidak sinkron dengan audio atau terlihat tidak natural. Selain itu, perhatikan juga ekspresi wajah dan kedipan mata yang cenderung kaku.

Ciri lain yang dapat dikenali adalah ketidakwajaran pada area sekitar wajah, seperti batas antara wajah dan leher yang tampak aneh atau resolusi yang berbeda pada bagian tertentu. Pencahayaan yang tidak konsisten dan latar belakang yang tampak buram juga menjadi indikasi adanya penyuntingan digital. Selain itu, perhatikan pula kecepatan bicara yang tidak wajar atau suara yang terdengar sedikit metalik. Ini bisa menjadi tanda bahwa audio telah diproses oleh algoritma.

Langkah Preventif dalam Menghadapi Hoaks

Masyarakat perlu mengedepankan sikap kritis dalam menerima setiap informasi yang diterima di media sosial. Sebelum membagikan sebuah konten, pastikan terlebih dahulu kebenarannya dengan mencari sumber terpercaya. Selain itu, jangan ragu untuk melaporkan akun-akun yang menyebarkan hoaks kepada platform media sosial atau pihak berwenang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Kehadiran Tim Cek Fakta Kompas.com adalah salah satu upaya untuk membantu masyarakat memverifikasi informasi yang beredar. Dengan adanya penelusuran yang cermat, diharapkan masyarakat tidak mudah termakan oleh konten-konten yang bernuansa menyesatkan. Literasi digital yang baik akan menjadi benteng yang kuat melawan penyebaran disinformasi.

Kesimpulan Akhir

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh Tim Cek Fakta Kompas.com, dapat disimpulkan bahwa video yang mengklaim Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membagikan dana bantuan Rp75 juta adalah hoaks. Video tersebut merupakan konten manipulasi artificial intelligence (AI) yang sengaja dibuat untuk menipu publik.

Masyarakat diminta untuk tidak menyebarkan video tersebut dan selalu memperhatikan sumber informasi yang valid. Jika menemukan informasi mencurigakan, segera lakukan kroscek ke kanal resmi atau hubungi layanan aduan yang tersedia. Dengan begitu, penyebaran hoaks dapat ditekan dan masyarakat terlindungi dari potensi penipuan.