Warner Bros. Layangkan Protes Keras ke ByteDance Soal Video AI Karakter DC
JAKARTA — Warner Bros. secara resmi telah mengirimkan protes keras kepada perusahaan teknologi ByteDance. Protes ini terkait dengan kemunculan sejumlah video berbasis kecerdasan buatan atau AI yang menampilkan karakter-karakter ikonik dari DC Comics, seperti Batman, Catwoman, dan Superman, di platform Seedance 2.0 milik ByteDance.
Tudingan Pembuatan Konten Tiruan
Studio film ternama tersebut secara tegas menuding bahwa ByteDance telah memfasilitasi pembuatan konten tiruan atau knockoff dari karakter-karakter miliknya melalui layanan AI yang tersedia di platform tersebut. Warner Bros. menganggap hal ini sebagai pelanggaran serius terhadap hak cipta dan kekayaan intelektual yang mereka pegang atas karakter-karakter DC tersebut.
Dalam surat resmi yang dikeluarkan, penasihat hukum Warner Bros. menyampaikan keberatan langsung kepada John Rogovin, yang saat ini menjabat sebagai penasihat umum di ByteDance. Menariknya, Rogovin sebelumnya pernah menduduki posisi serupa di Warner Bros., sehingga situasi ini menambah dimensi unik dalam konflik hukum ini.
Ironi Posisi Mantan Penasihat Hukum
Wakil Presiden Eksekutif Bidang Hukum Warner Bros., Wayne Smith, dalam surat tersebut secara khusus menyoroti ironi dari posisi Rogovin. Smith menekankan bahwa Rogovin dahulu adalah sosok yang aktif membela dan melindungi hak cipta karakter-karakter seperti Superman dan Batman selama masa kerjanya di Warner Bros.
"Kini, di posisinya yang baru di ByteDance, Rogovin justru terlibat dalam platform yang memungkinkan pelanggaran terhadap hak cipta karakter yang sama," tulis Smith dalam suratnya. Hal ini menunjukkan betapa kompleksnya persoalan hukum dan etika dalam era teknologi AI yang berkembang pesat.
Warner Bros. menuntut agar ByteDance segera mengambil tindakan tegas untuk menghapus konten-konten tersebut dari Seedance 2.0 dan mencegah munculnya konten serupa di masa depan. Studio ini juga mengancam akan mengambil langkah hukum lebih lanjut jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana kemajuan teknologi AI dapat menimbulkan tantangan baru dalam perlindungan hak cipta di industri hiburan global. Banyak pihak kini mengawasi dengan cermat bagaimana konflik antara raksasa hiburan dan perusahaan teknologi ini akan berakhir.