Frekuensi 3,5 GHz Kunci Optimalisasi 5G Indonesia, Komdigi Diminta Segera Rilis
Frekuensi 3,5 GHz Kunci Optimalisasi 5G Indonesia

Lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz telah rampung dan tinggal menunggu penetapan resmi oleh Menteri Komunikasi dan Digital. Namun, kedua pita tersebut dinilai belum mampu mengembangkan 5G Indonesia secara optimal.

Pita 3,5 GHz Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Berdasarkan laporan Opensignal, masih ada satu pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan agar pengembangan 5G nasional dapat bersaing dengan negara lain, yakni ketersediaan pita frekuensi 3,5 GHz. Opensignal menjelaskan bahwa tambahan spektrum di 700 MHz dan 2,6 GHz merupakan 'suntikan' yang dibutuhkan industri telekomunikasi Indonesia untuk mengatasi keterbatasan spektrum, terutama untuk menghadirkan layanan 5G yang membutuhkan minimal 100 MHz.

Baik 700 MHz maupun 2,6 GHz memiliki karakteristik yang akan memperluas cakupan jaringan sekaligus meningkatkan kapasitas layanan, sehingga kualitas pengalaman pengguna dapat meningkat secara bertahap. Akan tetapi, lelang frekuensi tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan tantangan spektrum untuk layanan 5G.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Opensignal: 3,5 GHz Spektrum Utama 5G

Opensignal menyebutkan frekuensi 3,5 GHz masih menjadi spektrum utama yang dibutuhkan untuk menghadirkan layanan 5G berkapasitas tinggi. Di banyak negara, frekuensi tersebut telah menjadi tulang punggung implementasi 5G karena mampu menghadirkan kombinasi ideal antara cakupan layanan, kapasitas jaringan, dan kecepatan akses data.

"Sebagian besar pasar Asia-Pasifik menggunakan pita frekuensi 3,5 GHz untuk 5G mereka - yang dianggap sebagai titik optimal karena menyeimbangkan kapasitas dan jangkauan, sehingga ideal untuk broadband seluler yang lebih baik," tulis Opensignal.

Opensignal mencontohkan sejumlah negara yang memakai frekuensi 3,5 GHz untuk layanan 5G, di antaranya Kamboja, Korea Selatan, Malaysia, Selandia Baru, dan Taiwan yang secara eksklusif hanya di pita tersebut. Sementara Australia, Hong Kong, dan Jepang menambahkan pita frekuensi tambahan untuk memperluas jangkauan, meningkatkan kapasitas, dan mengurangi kepadatan jaringan.

Indonesia Tertinggal karena Satelit

Indonesia sendiri hingga kini belum dapat memanfaatkan pita tersebut secara komersial karena masih digunakan oleh layanan satelit. Akibatnya, operator seluler selama ini mengandalkan pita frekuensi lain seperti 2,1 GHz dan 2,3 GHz untuk menggelar layanan 5G. Kondisi itu membuat performa 5G di Indonesia belum dapat berkembang seoptimal negara-negara yang telah mengoperasikan spektrum 3,5 GHz secara luas.

Bagi operator, dirilisnya 3,5 GHz nanti membuka peluang menyediakan kanal spektrum yang lebih lebar. Hal ini memungkinkan peningkatan kecepatan unduh, kapasitas jaringan yang lebih besar, hingga latensi yang lebih rendah untuk mendukung berbagai layanan digital, mulai dari streaming video beresolusi tinggi, cloud gaming, hingga aplikasi industri berbasis 5G.

Langkah Selanjutnya: Lepas 3,5 GHz

Opensignal berpandangan bahwa lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz sebaiknya dipandang sebagai fondasi awal transformasi jaringan seluler Indonesia. Agenda berikutnya adalah menyiapkan pelepasan pita 3,5 GHz agar ekosistem 5G nasional dapat berkembang lebih optimal dan mampu mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga