Tulisan ini terinspirasi dari artikel Cardo, Clarkin, dan Slade (2026) dari University of Southampton, Inggris, berjudul "Interdisciplinary research cultures are inclusive, not competitive," yang dimuat di Times Higher Education (THE) Edisi 9 Juni 2026. Esai tersebut mengajukan argumen sederhana, tapi tajam: budaya riset lintas disiplin yang sehat tidak lahir dari kompetisi antar-institusi atau individu, melainkan dari kondisi yang inklusif — waktu yang diakui secara struktural, kepercayaan yang dibangun perlahan, dan pengakuan atas perbedaan cara kerja tiap disiplin.
Refleksi untuk Indonesia
Membaca argumen itu dari sudut pandang Indonesia memunculkan pertanyaan yang lebih menohok. Ada satu gambar yang layak direnungkan lebih dalam dari peristiwa akhir Juni 2026 lalu: 2.600 rektor, dekan, guru besar, dan peneliti, termasuk 300 orang peneliti BRIN, berkumpul di Jakarta Convention Center untuk Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI).
Implikasi bagi Kolaborasi Riset
Kehadiran ribuan akademisi dan peneliti dalam satu forum menunjukkan potensi besar kolaborasi lintas disiplin. Namun, tanpa budaya inklusif yang didukung struktur waktu dan kepercayaan, kompetisi justru dapat menghambat riset. Menurut para penulis, pengakuan atas perbedaan cara kerja setiap disiplin menjadi fondasi penting.



