TB Hasanuddin Soroti Usia Kapal Induk Hibah Italia
Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin menyoroti masa pakai kapal induk Giuseppe Garibaldi yang rencananya akan dihibahkan Pemerintah Italia ke Indonesia. Dalam rapat kerja dengan Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan, Kemenkeu, dan tiga matra TNI, Hasanuddin menekankan bahwa usia kapal yang sudah mencapai 40 tahun akan berdampak signifikan terhadap anggaran operasional.
Hasanuddin meminta agar Kementerian Pertahanan tidak mendadak dalam menyampaikan pemberitahuan ke DPR. "Ya, kalau itu hibah mortir, meriam yang kecil-kecil sampai dengan tank mungkin tidak masalah. Tapi kalau ini hibah yang besar dan ini senjata strategis yang bisa berpengaruh terhadap image dari negara-negara tetangga kita, maka mungkin sebaiknya, menurut hemat kami, jangan mendadak seperti sekarang ini," ujarnya di ruang Komisi I DPR, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Kronologi Hibah dan Kekhawatiran Anggaran
Hasanuddin mengungkapkan bahwa parlemen Italia telah menyetujui hibah tersebut pada 8 Mei lalu. Ia menyesalkan bahwa DPR tidak dilibatkan sejak awal. "Padahal, dalam catatan yang bapak sampaikan, sejak 8 Mei ini sudah ada pemberian hibah disetujui parlemen Italia. Mungkin kami bisa ada prolog dulu dan kalau memungkinkan bisa diajak diskusi dari awal," kata legislator PDIP tersebut.
Meski demikian, Hasanuddin menyampaikan terima kasih kepada Italia atas rencana hibah kapal senilai EUR 54.022.426,67. Namun, ia langsung menyoroti usia pakai kapal yang mencapai 40 tahun. "Dalam catatan kami, usianya itu sudah masa pakai 40 tahun sehingga masa kapal perang itu kalau kita mengacu pada referensi yang normal, itu juga sekitar 40, 45 tahun. Sehingga kapal Garibaldi ini sisa usia pakainya mungkin hanya 10 tahun saja," tambahnya.
Biaya Operasional dan Retrofit yang Membebani
Hasanuddin mempertanyakan kemampuan anggaran TNI untuk merawat kapal induk tersebut. Ia menyebutkan biaya per bulan mencapai EUR 5.000.000 atau sekitar Rp101 miliar. Selain itu, biaya retrofit setelah diterima diperkirakan berkisar antara Rp7,2 triliun hingga Rp16,8 triliun, tergantung spesifikasi yang diminta. "Artinya, kita harus menghidupkan kapal ini dengan anggaran Rp7,2 triliun sampai Rp16,8 triliun," ungkapnya.
Ia meminta penjelasan dari Kementerian Keuangan mengenai potensi pembebanan anggaran negara. "Nah, pertanyaan kami, mungkin bukan kepada bapak-bapak, tapi kepada Kementerian Keuangan. Saya mohon apakah ini tidak membebani anggaran TNI? Wabilkhusus nanti anggarannya Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut, TNI AL. Karena apa? Itu kita harus menyediakan uang per tahun itu sekitar Rp101 miliar," ujar Hasanuddin.
Presiden Prabowo Dikabarkan Akan Kurangi Anggaran TNI
Hasanuddin juga menyinggung informasi bahwa Presiden Prabowo Subianto berencana mengurangi anggaran TNI untuk dialokasikan ke kepentingan rakyat. "Karena apa, saya mempertanyakan soal anggaran ke depan, ya, kepada Menteri Keuangan? Karena begini, kami baru saja mendapatkan, pembaca informasi yang disampaikan oleh Bapak Presiden. Bahwa bisa jadi, ya, anggaran untuk TNI itu dikurangi demi kepentingan rakyat. Itu, ya. Sehingga ini warning kan untuk kita semua, apakah kita mampu membayarnya dan lain sebagainya," imbuhnya.
Dengan sisa usia pakai sekitar 10 tahun dan biaya operasional yang tinggi, Hasanuddin menilai perlu ada kajian mendalam sebelum Indonesia menerima hibah kapal induk tersebut.



