Menhan AS Tegaskan Perang Iran Tak Miliki Batas Waktu Akhir
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth secara tegas menyatakan bahwa tidak ada jangka waktu yang pasti untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers yang digelar pada Jumat (20/3/2026), menegaskan komitmen militer yang berkelanjutan di kawasan Timur Tengah.
Keputusan Akhir Berada di Tangan Presiden Trump
"Kami tidak ingin menetapkan jangka waktu yang pasti," tegas Hegseth, seraya menambahkan bahwa "kami berada di jalur yang benar". Ia menjelaskan bahwa keputusan untuk menghentikan konflik sepenuhnya akan menjadi wewenang Presiden Donald Trump. "Pada akhirnya, akan ada pilihan Presiden, di mana kita mengatakan, 'Hei, kita telah mencapai apa yang perlu kita capai,'" ujarnya seperti dilansir dari AFP.
Permintaan Dana Rp 3,3 Kuadriliun untuk Biaya Perang
Di sisi lain, Pentagon telah mengajukan permintaan dana tambahan yang sangat besar kepada Kongres AS. Nilainya mencapai lebih dari 200 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 3,3 kuadriliun. Dana ini dimaksudkan untuk membiayai keberlangsungan operasi militer melawan Iran dan sekutunya di wilayah tersebut.
Hegseth menanggapi laporan tersebut dengan menyatakan bahwa angka permintaan dana masih bisa berubah. "Mengenai $200 miliar, saya pikir angka itu bisa berubah. Jelas dibutuhkan uang untuk membunuh orang jahat," katanya secara blak-blakan. Ia menegaskan bahwa Pentagon akan terus berkoordinasi dengan Kongres untuk memastikan pendanaan yang memadai, baik untuk operasi saat ini maupun potensi kebutuhan di masa depan.
Operasi Militer Aktif di Selat Hormuz dan Irak
Dalam konferensi pers yang sama, Jenderal Dan Caine, perwira militer AS berpangkat tinggi, memberikan rincian operasi tempur yang sedang berlangsung:
- Pesawat A-10 Warthog digunakan untuk memburu dan menghancurkan kapal serang cepat di Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang ditutup Iran untuk lalu lintas maritim sejak perang dimulai.
- Helikopter AH-64 Apache dikerahkan di Irak untuk menargetkan kelompok milisi yang bersekutu dengan Iran di negara tersebut.
- Beberapa sekutu AS telah mulai memanfaatkan helikopter serang Apache untuk melawan drone satu arah yang diluncurkan oleh pasukan Teheran.
Rincian ini menunjukkan intensitas dan kompleksitas konflik yang melibatkan berbagai jenis persenjataan dan taktik militer. Operasi di Selat Hormuz menjadi perhatian khusus mengingat pentingnya jalur pelayaran tersebut bagi perdagangan global.
Permintaan dana besar-besaran ini terjadi dalam konteks perang yang telah menelan biaya tinggi dan menimbulkan ketegangan geopolitik yang mendalam. Tidak adanya batas waktu yang jelas dari Menhan AS mengindikasikan bahwa konflik ini mungkin akan berlangsung lebih lama dari perkiraan banyak pihak, dengan implikasi keamanan dan stabilitas yang luas di kawasan Timur Tengah.



