Industri pertahanan Korea Selatan berhasil bangkit setelah sempat terpukul oleh keputusan Kanada yang memilih desain kapal selam Jerman. Kini, mereka agresif merebut pangsa pasar belanja pertahanan global yang meningkat. Didorong oleh ancaman Korea Utara dan ketergantungan pada militer AS, Seoul telah lama mempertahankan sektor pertahanan yang kuat. Dalam satu dekade terakhir, pemerintah gencar mengembangkan pasar ekspor, yang terbukti berhasil sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Strategi Ekspor yang Sukses
Menurut Park Saing-in, ekonom di Seoul National University, Korea Selatan berada dalam situasi geopolitik unik karena keberadaan Korea Utara dan ketergantungan pada kehadiran militer AS. "Pemerintah terus berusaha lebih mandiri dalam menyediakan perlengkapan bagi angkatan bersenjata kami, dengan menggelontorkan dana besar untuk riset dan pengembangan di perusahaan-perusahaan pertahanan, sehingga mereka bisa mengejar ketertinggalan dari negara lain," katanya kepada DW. Peralatan kelas atas seperti jet tempur F-35 masih dibeli dari AS, namun produsen lokal semakin mahir memproduksi sistem senjata kelas menengah yang bisa dikirim cepat dengan biaya rendah.
Produk Unggulan: Rudal Cheongung-II dan Howitzer K9
Rudal permukaan-ke-udara jarak menengah Cheongung-II, yang mirip dengan Patriot buatan AS, mampu mencegat rudal balistik dan pesawat pada jarak hingga 40 km. Korea Selatan menjual 10 baterai sistem ini ke Uni Emirat Arab pada 2022, dengan tingkat keberhasilan intersepsi 96% dalam konflik Timur Tengah. Setiap unit pencegat diperkirakan berharga 1,1 juta dolar AS (Rp19,8 miliar), jauh lebih murah dibanding pencegat Patriot yang harganya bisa mencapai beberapa juta dolar per unit. Waktu pengiriman sistem lengkap hanya sekitar satu tahun, sementara Patriot minimal empat tahun.
Pada 2025, ekspor senjata Korea Selatan mencapai 15,4 miliar dolar AS (Rp278,2 triliun), menurut Seoul Economic Daily yang mengutip data Defense Acquisition Program Administration (DAPA). Angka ini sempat memuncak di 17,3 miliar dolar AS pada 2022. Perusahaan Korea Selatan juga memperluas jenis produk, dari kapal perang, artileri, dan pesawat, kini meliputi kendaraan lapis baja, rudal, dan sistem pertahanan udara.
Eropa Jadi Pasar Utama
Negara-negara Eropa yang terguncang oleh agresi Rusia menjadi pasar utama. Polandia menjadi pembeli terbesar, menyumbang lebih dari 40% total ekspor Korea Selatan. Warsawa memesan 364 howitzer self-propelled K9 Thunder kaliber 155mm, 360 tank tempur utama K2 Black Panther, peluncur roket berganda K239 Chunmoo, 48 pesawat tempur dan latih ringan FA-50, serta 1.266 kendaraan tempur "Legwan". Perombakan alutsista ini memungkinkan Polandia menyerahkan peralatan lama era Soviet ke Ukraina. Finlandia, Estonia, Norwegia, dan Rumania juga membeli howitzer K9, sementara kesepakatan tank K2 dan kendaraan tempur infanteri Redback diharapkan menyusul. Australia telah membeli Redback senilai 2,4 miliar dolar Australia.
Ekspansi ke Timur Tengah dan Asia
Selain UEA, Arab Saudi telah membeli sistem pertahanan rudal Cheongung-II, dan Irak diperkirakan mengikuti. Vietnam dan Filipina berunding soal kapal patroli dan pesawat FA-50. Peru telah menandatangani kesepakatan dengan Hyundai Heavy Industries untuk proyek angkatan laut dan membahas pembelian tank K2 serta kendaraan lapis baja K808. Pada Mei lalu, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menghadiri seremoni peluncuran jet tempur KF-21 buatan dalam negeri, proyek yang melibatkan Indonesia.
Kekuatan dan Tantangan ke Depan
Park menekankan kekuatan perusahaan senjata Korea Selatan terletak pada kemampuan memproduksi perlengkapan berkualitas tinggi dengan waktu pengerjaan singkat dan harga relatif murah. "Itu penting bagi perekonomian secara keseluruhan, karena Korea Selatan sudah lama terlalu bergantung pada enam atau tujuh sektor saja," ujarnya. Chun In-bum, jenderal purnawirawan Angkatan Darat Korea Selatan, mengatakan perusahaan Korea Selatan sebelumnya sukses menyempurnakan produk rumah tangga seperti televisi dan menjualnya lebih murah. "Kami adalah negara manufaktur yang kuat, terbuka terhadap teknologi asing, dan pandai mengejar ketertinggalan," katanya. Namun, Chun menyoroti kekurangan pada helikopter buatan dalam negeri. Meski begitu, negara asing cepat mengenali sistem senjata yang memberi keunggulan di medan perang. "Mungkin bukan yang terbaik di dunia, tapi tersedia dengan cepat, terbukti berfungsi, harganya bersaing, dan biasanya termasuk paket perawatan," katanya.
Catatan Waspada untuk Masa Depan
Park menambahkan bahwa bisnis pertahanan sedang berkembang pesat di tengah ketidakpastian global, namun sektor ini tidak bisa mengandalkan kondisi itu selamanya. "Dalam jangka panjang, saya memperkirakan negara-negara Eropa dan anggota NATO lain akan berusaha membangun industri pertahanan mereka sendiri. Karena itu penting bagi Korea Selatan untuk terus mendorong kemitraan yang lebih dari sekadar jual-beli, meluas ke riset dan pengembangan bersama, produksi, serta penempatan sistem senjata," pungkasnya.



