Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa serangan rudal balistik yang menargetkan pangkalan udara Amerika Serikat di Yordania tidak dimaksudkan sebagai permusuhan terhadap Yordania atau rakyatnya. Pernyataan tersebut disiarkan melalui media Iran, Fars News, dan dikutip oleh Al-Jazeera pada Selasa (14/7/2026).
Pesan Langsung untuk Rakyat Yordania
Dalam pernyataannya, IRGC menyampaikan pesan langsung kepada warga Yordania: "Anda tahu bahwa kami tidak memiliki permusuhan terhadap negara Anda. Sebaliknya, kami sangat mencintai Anda, rakyat yang mulia. Anda memahami rasa sakit dan penderitaan rakyat Palestina lebih baik daripada bangsa lain mana pun."
IRGC juga mengingatkan tentang kejahatan yang dilakukan oleh rezim Zionis, yang menurut mereka telah membantai tujuh puluh ribu warga Palestina, termasuk 20.000 anak-anak di Gaza, dengan keterlibatan langsung Amerika Serikat.
Desakan untuk Membubarkan Pangkalan AS
IRGC mendesak warga Yordania untuk menuntut pembubaran pangkalan militer AS yang berada di negara mereka. "Tuntutan tegas Anda untuk pembubaran pangkalan pendudukan Amerika di kawasan ini akan sangat membantu menyelamatkan rakyat Palestina dan memulihkan keamanan di kawasan tersebut. Kami berharap Yordania sukses," demikian bunyi pernyataan IRGC.
Sebelumnya, otoritas Yordania mengonfirmasi telah menembak jatuh empat rudal Iran yang memasuki wilayah udara mereka. Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa atau kerusakan akibat serangan tersebut.
Eskalasi Konflik Iran-AS
Serangan rudal ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Militer AS dilaporkan telah melancarkan serangan terhadap Iran selama tiga malam berturut-turut. Sementara itu, IRGC juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap sejumlah kapal tanker di Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa AS menyerang Iran dengan "sangat keras" dalam eskalasi terbaru ini. Uni Emirat Arab (UEA) menuduh Iran melakukan serangan "terang-terangan" terhadap dua kapal tanker di selat tersebut, yang menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya, dengan empat korban mengalami luka berat.
IRGC mengonfirmasi serangan terhadap kapal-kapal itu, dengan alasan bahwa kedua kapal tanker mengabaikan peringatan, mematikan sistem navigasi, dan mencoba melintasi jalur yang telah dipasangi ranjau.
Dampak pada Stabilitas Kawasan
Perselisihan mengenai kendali atas Selat Hormuz kini mengancam upaya untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung. Ketegangan yang terus meningkat antara Iran dan AS, serta keterlibatan aktor regional seperti Yordania dan UEA, menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah.



