Mengenal Gunung Pickaxe: Situs Nuklir Bawah Tanah Iran yang Diancam Trump
Gunung Pickaxe: Situs Nuklir Bawah Tanah Iran Diancam Trump

Donald Trump, mantan Presiden Amerika Serikat, kembali melontarkan ancaman terhadap Iran, kali ini menargetkan fasilitas nuklir bawah tanah yang dikenal dengan nama Gunung Pickaxe. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan pada 22 Juli 2026, Trump menyatakan bahwa jika Iran terus melanjutkan program pengayaan uraniumnya, AS tidak akan ragu untuk menghancurkan situs tersebut.

Apa Itu Gunung Pickaxe?

Gunung Pickaxe bukanlah nama geografis resmi, melainkan julukan yang diberikan oleh badan intelijen AS kepada sebuah kompleks nuklir bawah tanah yang terletak di dekat kota Natanz, Iran. Fasilitas ini dibangun di kedalaman sekitar 80 meter di bawah permukaan gunung, menjadikannya salah satu situs nuklir paling sulit dijangkau di dunia. Menurut laporan dari Institute for Science and International Security (ISIS), Gunung Pickaxe memiliki luas sekitar 100.000 meter persegi dan dilengkapi dengan ribuan mesin sentrifugal canggih untuk memperkaya uranium.

Fasilitas ini mulai dibangun pada awal 2010-an setelah serangan siber Stuxnet berhasil merusak sentrifugal di pabrik pengayaan Natanz yang berada di atas tanah. Iran kemudian memutuskan untuk memindahkan sebagian besar aktivitas pengayaannya ke bawah tanah agar lebih aman dari serangan udara atau sabotase.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ancaman Trump dan Dampaknya

Dalam pidatonya, Trump menegaskan, "Kami tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Gunung Pickaxe akan menjadi sasaran utama jika mereka tidak menghentikan program nuklirnya." Ancaman ini memicu reaksi keras dari Teheran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, menyebut pernyataan Trump sebagai "propaganda perang yang tidak bertanggung jawab" dan menegaskan bahwa program nuklir Iran sepenuhnya untuk tujuan damai.

Para analis militer memperkirakan bahwa untuk menghancurkan Gunung Pickaxe, AS mungkin memerlukan bom penghancur bunker terbesarnya, seperti GBU-57 MOP (Massive Ordnance Penetrator) yang mampu menembus beton setebal 60 meter. Namun, efektivitasnya terhadap fasilitas yang berada di kedalaman 80 meter masih diragukan. Sebuah studi dari RAND Corporation pada 2025 menyimpulkan bahwa serangan terhadap Gunung Pickaxe kemungkinan besar hanya akan merusak sebagian fasilitas dan tidak akan menghentikan program nuklir Iran secara permanen.

Reaksi Internasional

Uni Eropa dan Rusia mengecam ancaman Trump. Juru bicara Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Peter Stano, mengatakan bahwa "setiap tindakan militer sepihak akan memperburuk situasi dan melanggar hukum internasional." Sementara itu, Rusia menawarkan diri sebagai mediator untuk meredakan ketegangan. China juga menyerukan dialog dan menolak penggunaan kekerasan.

Di dalam negeri AS, ancaman Trump mendapat dukungan dari kelompok garis keras yang menginginkan pendekatan tegas terhadap Iran. Namun, beberapa anggota Kongres dari Partai Demokrat memperingatkan bahwa serangan semacam itu dapat memicu perang besar di Timur Tengah.

Kesimpulan

Gunung Pickaxe tetap menjadi titik rawan dalam hubungan AS-Iran. Ancaman Trump menunjukkan bahwa isu nuklir Iran masih jauh dari selesai, meskipun ada upaya diplomatik sebelumnya. Dunia kini menunggu langkah selanjutnya dari kedua belah pihak.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga